Jenis- Jenis Dosen Pembimbing Skripsi

Singkat saja, catatan ini saya buat bedasarkan observasi saya selama saya masih berstatus mahasiswi semester 8. Apa yang saya tulis murni pengalaman yang entah saya atau teman saya atau leluhur a.k.a senior saya terdahulu saat menjalani skripsian dan didukung oleh apa yang teman saya dari luar jurusan atau universitas lain. Jadi, tulisan ini juga merupakan ulasan singkat pengalaman dari berbagai penjuru yang masih bisa saya jangkau waktu itu.
Kebanyakan apa yang kami alami 11-12 dengan apa yang kakak senior perbincangkan mengenai dosen pembimbing mereka terdahulu. Beberapa hanya rumor yang menakuti, tapi sebagian besarnya memang benar. Agak sulit memang untuk ‘merapikan’ beberapa cerita tentang dosen pembimbing ini karena begitu banyak karakter manusia. Apalagi cerita tersebut memang benar-benar subyektif. Walaupun kepala saya agak pening karena terus berpikir dan memakai kacamata (ah, memakai kacamata itu melelahkan *lepas kacamata*), dengan kesungguhan hati, saya mengkategorikan jenis-jenis dosen tersebut supaya tidak membingungkan. Kategori-kategori yang saya buat antara lain: 1) kategori sifat dasar dosen, 2) kategori cara penilaian dosen, dan 3) kategori hubungan antar dosen pembimbing. Tulisan saya ini bukan untuk menjelek-jelekkan, menjerumuskan atau menakuti siapapun. Saya hanya ingin sharing apa yang telah saya dan teman-teman saya alami sebelumnya. Mungkin itu juga terjadi pada siapapun.
Nah, tanpa panjang lebar lagi, berikut adalah jenis dosen pemimbing menurut kategori sifat daasr dosen. Banyak yang mengeluh mengenai dosen yang membimbing mereka ketika skripsian. Padahal dosen juga manusia yang sifatnya beragam seperti mahasiswanya. Maka dari itu, kategori ini pun paling banyak jenisnya, antara lain:
1. Dosen yang Pengertian
Saya letakkan ini di nomor satu karena setiap mahasiswa/I baik yang bulukan, cantik, wangi, menor, ganteng, super atau yang bau keringat setiap hari-pun pasti menginginkannya. Yap, dosen semacam ini (menurut ucapan kahayalak mahasiswa) membuat skripsi macam apapun bisa maju sidang. Mereka sangatlah pengertian—tahu bahwa mahasiswanya butuh bantuan dalam skripsinya dan ingin segera lepas meninggalkan kampus. Biarpun judul proposalnya bisa dibilang hancur, tidak masuk akal atau tidak jelas arahnya akan kemana, mereka akan memberi nasihat yang terbaik, bahkan membantu kita dengan memberitahukan referensi yang tepat bagi penelitian kita. Mereka akan senang jika mahasiswanya mau berusaha, bukan copy paste dari milik peneliti sebelumnya yang juga mengambil jenis studi yang sama. Kawan-kawan harus berhati-hati juga pada jenis dosen yang satu ini karena banyak ternyata mahasiswa yang menyalahgunakan kebaikan mereka.
Seperti contoh seorang mahasiswa meminta kakak atau pacar atau siapapun untuk membuat skripsinya dan ingin segera maju sidang. Nah, dosen jenis ini (biasanya) mengiyakan keinginan mahasiswanya sebab, mereka memahami akan keadaan mahasiswanya yang (kebanyakan) sudah malas berkutat dengan buku dan tugas. Apalagi yang belajar hingga 4-6 tahun lamanya. Bau bangkai pasti akan tercium juga. Jika terciumnya sebelum ujian skripsi, okelah. Setidaknya diomeli hanya di depan muka kita saja. Namun, kalau itu terjadi ketika sidang… berabe! Dosen sebaik apapun pasti akan sangat kecewa. Kejadian inilah yang membuat dosen-dosen pengertian jarang bisa kita temukan lagi. Saya yakin, dosen-dosen yang paling dihindari dulunya adalah dosen-dosen yang pengertian. Tapi, saking banyaknya mahasiswa yang mulai bertingkah ini membuat mereka lebih ‘disiplin’ sehingga tidak bisa menerima excuse berlebihan dari mahasiwanya.

2. Dosen yang Tidak Tepat Waktu
Membuat janji dengan dosen itu merupakan hal wajib bagi mahasiwa semester 8 atau lebih. Sebab, dosen tersebut hanya ada satu, tapi puluhan mahasiswa membutuhkan waktu beliau dan ditambah lagi urusan luar lainnya seperti seminar, rapat, makan siang atau ke kondangan. Jika dosen mengatakan bisa bertemu pada jam sekian di tempat ini, pasti mahasiswa tersebut akan tiba jauh sebelum waktu perjanjian karena takut terjadi sesuatu dan lain hal. Tapi, kemalangan masih saja terjadi pada mahasiswa/I rajin seperti teman-teman saya dulu yang menunggu dari sejam sebelum waktu bertemu hingga lewat dua jam berikutnya. Ruangan beliau kosong dan jika dihubungi, tidak ada balasan. Baru beberapa jam, hingga jauh setelahnya, barulah batang hidung dosen tersebut muncul. Mahasiwa tidak bisa berkata apa karena mereka yang membutuhkan si dosen, bukan sebaliknya. Dosen juga bukan pacar mereka yang ketika telat dating bisa langsung disemprot begitu saja. Hal yang paling mengesalkan adalah saat teman saya sudah menunggu begitu lama tapi ternyata beliau tidak datang dan entah kapan lagi bisa bertemu!

3. Dosen Siput
Sedikit sekali ulasan saya mengenai dosen siput di dunia liliput ini. Yap, dosen semacam ini selain gaya bicaranya lamban, kerjanya pun juga. Jadwal kita yang sudah disusun dari pengumpulan skripsi hingga kapan wisuda bisa-bisa berantakan karena dosen satu ini. Proposal dari mahasiswa skripsiannya bisa-bisa sebulan dibacanya. Saking pelannya, kadang mahasiswa berpura-pura dengan memberitahu pendaftaran untuk ikut ujian proposal gelombang terakhir bulan ini akan segera tenggat sehingga dosennya harus cepat-cepat merevisi. Haduh! Dosen lambat sih memang bikin pusing, tapi….

4. Dosen WAW
WAW yang dimaksud adalah gaya berbusana beliau. Dari akar rambut hingga ujung jempol kaki necisnya minta ampun. Make-up setebal buku jenis-jenis penelitian oleh Borg and Gall menempel di kulit wajahnya. Tidak jarang ada dosen wanita bergaya mentereng hingga waktunya sibuk untuk mengurusi penampilannya ke kampus dan bukan mahasiswanya. Jika bertemu, paling-paling hanya menanyakan perkembangan secara garis besar, terlihat bahwa ingin perhatian pada mahasiswanya padahal ujung-ujungnya bilang,”Ya, saya mengikuti apa kata pembimbing pertama saja.” Haduuuh!

5. Dosenku Entah Kemana
Sangat bangga rasanya menjadi mahasiswa/I bimbingan seorang dosen yang merupakan guru besar dengan jam terbang yang tinggi melayang. Sampai-sampai mahasiswanya sampai pening melihatnya ‘terbang’ kemana-mana. Sekali bertemu, cuma bisa membahas beberapa hal. Besoknya setelah skripsi direvisi, beliau sudah tidak ada lagi di kantornya. Kata Humas, sang dosen pergi ke Malaysia untuk mengisi seminar Internasional. Padahal, (pernah sekali) teman saya hanya ingin minta tanda tangan untuk bisa maju ujian proposal sementara pembimbing kesayangannya sedang di Bangkok. Untung kami bisa menghentikannya untuk membeli tiket pulang-pergi negeri gajah putih itu demi sebuah goresan pena!
Jika kawan-kawan memiliki pembimbing jenis ini, baiknya mengikuti apa yang teman saya lakukan. Kebetulan (dan untungnya pula!) dosennya memiliki jadwal tetap. Sekian hari di sini, sekian hari di sana, jadi ia sudah punya jadwal kapan bisa bertemu beliau. Yang tidak, menurut hemat saya, mending sering-sering berdo’a memohon ampun atas segala dosa. Ya, siapa tahu kawan-kawan bisa jauh lebih ikhlas menjalani penghujung semester. Tidak ada yang tidak mungkin kok. Lha, dosen saya yang dulu pernah dibimbing oleh seorang Prof. seperti ini, beliau cuma butuh waktu 2 TAHUN untuk menyelesaikan skripsinya dan wisuda dengan selamat serta bahagia.

6. Dosen Amnesia
Ini yang paling menyebalkan dan untungnya saya tidak pernah mendapatkan atau berurusan dengan dosen semacam ini, walaupun ada dan masih hidup. Berhati-hatilah! Hasil penilaian ujian proposal teman saya pernah dihilangkan oleh pembimbing tercintanya yang menyebabkan nilainya keluar belakangan sehingga jadwalnya merevisi proposal jadi matot—macet total! Ada pula yang bahkan LUPA dimana meletakkan skripsi yang sudah diketik rapi hingga bagian lampiran-lampirannya. Kedua belah pihak tidak tahu menahu keberadaan si skripsi yang kata Bapak/Ibu dosen sudah dibawa pulang dan direvisi sebelum masuk ujian. Dimakan jin mungkin?

7. Dosen I-Trust-You
Pembimbing semacam ini menaruh kepercayaan besar di pundak mahasiswanya. Saya pun jika dapat pembimbing semacam ini bingung: antara merasa bangga atau takut. Ya, bangga karena dosen PERCAYA pada hasil kerja mahasiswnya tanpa perlu banyak membimbing dan menilai isi skripsi kita. Bagian yang menakutkan adalah, apabila isi skripsi yang kita dan pembimbing sudah anggap benar berkebalikan dengan ‘kebenaran’ yang penguji yakini saat sidang. Nahlo! Teman saya pernah mendengar bahwa banyak dosen yang mengatakan bahwa skripsi yang lahir dari tangan pembimbing semacam ini biasanya GAK NYAMBUNG dan GAK COCOK antara elemen satu dengan yang lain. Seperti mengiris daging ayam dengan gunting. Atau menebang pohon dengan pisau dapur. Bisa sih, tapi… Parahnya lagi, penguji tak jarang meminta mahasiswa tersebut untuk MEROMBAK sebagian besar isi skripsinya. Horrible!

8. Dosen Pasal 1
Yang pernah memasuki masa-masa masuk SMP atau SMA pasti tahu pasal 1. Yap, dosen selalu benar dan jika beliau salah, balik ke pasal satu. Sudah tentu mereka adalah manusia-manusia egois yang bertitel. Bayangkan saja, teman saya yang sudah hampir copot nyawanya karena tidur sejam selama seminggu itu diminta dosennya untuk merubah lagi jenis penelitiannya. Merubah jenis penelitian sama dengan meminta Sule untuk mengganti wajahnya. Alias, ulang dari awal lagi! Jeng jeng! Si dosen malah meremehkan apa yang dikerjakan olehnya. Dibilang instrumennya beginilah, judulnya anehlah, rumus penghitungannya salah-lah. Lucunya (dan ironisnya), teman saya ini merevisi apa yang dosennya sebelumnya beritahukan mengenai judul yang benar, instrument, cara menghitung data, dsb. Direvisi PERSIS di bagian yang beliau coret dan diberi note di atas skripsinya itu. Salah tanda baca pun ia edit dengan sunggguh-sungguh. Teman saya cuma bisa manyun, mengikuti ke-egoisan si bapak/ibu dosen. Sebab, dosen jenis ini tidak bisa dilawan. Dan belum pernah dalam sejarah yang saya dengar ada mahasiswa yang melawan dosen macam ini.

9. Dosen Margaret Thatcher
Margaret Thatcher adalah Perdana Menteri Inggris wanita yang dikenal bertangan besi. Ketika beliau meninggal, ada yang bersuka cita, ada yang bersedih. Setahu saya, lebih banyak yang bersuka cita. Gen kedisiplinan ala Mrs. Thatcher ini ada pula yang memiliki. Setiap saat harus mengikuti aturan, harus memiliki referensi yang asli, bukan kutipan alias second hand, editan harus rapi, bertemu jika memang harus bertemu, dsb. Bagi yang merasa menjadi mahasiswa yang malas, siap-siap saja bila skripsinya disandingkan dengan dosen semacam ini. Jangan takut atau panik dulu. Sebaliknya, ambil hikmahnya saja. Siapa tahu kalian diberikan pencerahan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik (ceilah!).

10. Dosen Sakaw
Kenapa saya sebut sakaw? Karena beliau-beliau ini biasanya bila dipuji langsung seperti remaja yang baru nyabu. Mereka senang jika diperlakukan demikian oleh mahasiwanya sebab mereka haus akan pengakuan secara positif. Selain pujian, mereka juga demen sama sogokan macam apapun. Bila melangkah, harus ekstra hati-hati. Sebab, kita tidak tahu apakah beliau benar-benar memberikan kita nilai bagus setelah dipuji atau malah sebaliknya. Biasanya, mereka ini justru bersikap sangat subyektif.

11. Dosen Sesat
Sesat yang dimaksud bukan aliran, namun pengetahuan yang diberikan oleh dosen-dosen yang satu ini. Tidak pernah bisa dipungkiri, jenis penelitian berbanding lurus dengan jenis dosen pembimbing nantinya. Namun, ada saja satu dua kejadian dimana dosen (biasanya pembimbing kedua, atau ketiga jika ada) diminta untuk membantu mahasiswanya dalam menyelesaikan skripsi yang bukan bidang keahliannya. Tahu sih iya, tapi mendalami tidak. Ingat, suatu ilmu masih mempunyai banyak lagi cabang-cabang ilmu lainnya. Seperti contoh, pendidikan bahasa Inggris yang memiliki banyak dosen yang melanjutkan studi S2 dan S3 di bidang Linguistik (ilmu bahasa) dan ada juga yang lebih mendalami bagian pendidikannnya. Jadi ketika teman saya yang mengangkat penelitian tentang Linguistik mendapat pembimbing yang bergelar Master di Pendidikan, agak runyam jadinya. Sang dosen harus membaca bukunya waktu S1 lagi sebelum memberikan pencerahan. Terkadang ia juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan teman saya. Kalau beliau sendiri tersesat, bagaimana nasib mahasiswa?!
Kategori selanjutnya adalah yang paling mudah, yaitu cara penilaian dosen. Penilaian tentu berhubungan dengan subyektifitas atau obyektifitas dosen. Namun, caranya ternyata beragam terlepas dari jenis penilaian mereka.
1. Melihat Kegigihan Mahasiswa
Saya pernah mendengar curhatan dosen saya sendiri yang mengatakan bahwa ia lebih senang membantu mahasiswa yang rajin dan mau berusaha ketimbang yang pintar-pintar, tapi sekalinya datang malah minta tanda tangan supaya bisa maju ujian. Waku bimbingan, ia jarang datang. Malah menghabiskan waktunya di warung kopi. Merasa sudah terlalu pintar mungkin? Hal ini snagat menguntungkan bagi mahasiswa yang tahu karakter dosen pembimbingnya. Sering datang bimbingan atau sekedar konsultasi basa-basi apa susahnya? Toh, yang pengetahuannya bertambah itu kita, bukan ayam kita di kampung.

2. Mengecek Referensi
Ini penting bagi beberapa dosen karena dari referensi mereka tahu apakah mahasiswa ini mengerjakan sendiri isi dari skripsinya. Kalau hanya ngopi saja kutipan tersebut dari skripsi orang, umumnya mahasiswa jenis ini sering lupa meletakkan referensinya dari mana. Maka dari itu, penting jika kalian mengutip sesuatu harus dengan daftar pustakanya juga. Kalau dosen yang levelnya tinggi, mereka bahkan bisa meminta mahasiswanya untuk membawa bukti berupa buku atau artikel tempat mereka mengutip.

3. Plagiarisme
Sekali ketahuan, gelar sarjana dibatalkan. Maka dari itu, sudah banyak dosen yang aware dengan hal yang satu ini.  Tidak segan-segan bahkan kampus memfasilitasi dosennya dengan software untuk menguji plagiarisme suatu karya dan membatalkan wisuda yang terbukti melanggar. Saya sarankan agar kawan-kawan membuat skripsi semampu otak kalian. Yang penting, itu hasil buatan sendiri. Bukan manipulasi! Jika lelah membuat skripsi, istirahatlah. Baru lanjutkan lagi. Merasa tidak lagi mampu melanjutkan? Okelah, jangan lanjutkan. Mungkin bukan jalan kalian untuk menyelesaikan skripsi.

4. Kemenarikan Penelitian
Mungkin ini yang paling sering dibahas karena sebagian besar dosen akan terus mengingat karya-karya mana yang menarik minat mereka. Mereka pasti dengan senang hati mengulurkan tangan untuk membantu kalian dalam menyelesaikan skripsi. Namun, keadaan terburuknya adalah siap-siaplah untuk mencari lagi ide penelitian yang lain. Sebab, banyak yang awalnya judul proposal tersebut dielu-elukan, tapi ketika masuk Bab 4, hasil penelitian tidak bebuah apapun atau tidak berujung kemanapun atau ternyata tidak bisa menyelesaikan karena sesuatu dan lain hal.

5. Aturan dari Segala Sisi
Setiap tahun, kampus mungkin saja merubah aturan dalam pembuatan skripsi, tesis atau disertasi sesuai dengan pekembangan zaman atau perubahan aturan Internasional yang dianutnya. Cara membuat artikel-pun biasanya dibahas dalam sebuah buku yang patut dimiliki oleh semua tetua-tetua jurusan (a.k.a mahasiswa/I semester akhir). Ada saja dosen yang selalu menilai skripsi yang dibuat oleh mahasiswanya dengan detail; isi, hasil, margin, font, hingga cara mengutip sebaris kata ataupun satu paragraf sang empunya teori. Jangan salah, banyak mahasiswa yang terkecoh dengan meyakini bahwa ‘dosen kita tidak akan menilai sampai segitunya karena banyak skripsi yang harus diperiksa’. NO WAY! Memeriksa atau tidak, kalian harus tetap pukul rata; memperhatikan aturan dan mengikutinya dengan baik. Toh, ketika kalian keluar menjadi bagian dari masyarakat, akan ada lebih banyak aturan yang harus kalian jalani.

Kategori yang terakhir yaitu hubungan antar dosen pembimbing ini merupakan yang terberat yang harus seorang mahasiswa jalani sebagai ujian dari Yang Maha Esa. Hubungan ini, yang saya lebih senang menyebutnya sebagai simbiosis (Jujur, saya masih perlu membuka RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) kelas 5 SD saya yang dulu untuk memberikan informasi yang benar mengenai simbiosis-simbiosis yang saya bahas *tertawa pedih*), sedikit banyak mempengaruhi penyelesaian skripsi. Jadi, perhatikan baik-baik.
1. Simbiosis mutualisme
Hubungan antara burung jalak dan kerbau ini sebagian besar dapat ditemui dengan mudah. Jadi, bagi siapapun yang mendapat dua atau tiga pembimbing yang bisa saling support satu sama lain, bersyukurlah. Jangan sekali-sekali dimanfaatkan karena akan berbalik menyerang seperti bumerang. Mereka akan saling membantu dan memberikan masukan sejalan satu sama lain supaya skripsi kawan-kawan cepat selesai dan mereka tidak perlu lagi melihat kalian (lha?).

2. Simbiosis parasitisme
Saya tidak mengerti dengan kejadian yang menimpa teman saya. Dia mendapatkan dua pembimbing yang keduanya pernah mengenyam bangku S3 (ceilah, bangku!). Entah karakter keduanya secara individual seperti apa, yang jelas keduanya tidak akur. Bahkan teman saya yang rajin berdo’a masih saja kelimpungan mengurusi pertengkaran diam-diam mereka ini. Usut punya usut, kedua dosen tersebut memiliki paham berbeda walaupun bidang keahliannya sama. Manusia tidak ada yang sempurna, apalagi teori dan penelitian yang mereka yakini benar. Bertabrakanlah kedua paham ini dan yang hancur adalah hati teman saya berikut setiap lembar skripsinya. Setiap dia bimbingan, selalu saja apa yang dikatakan berbeda satu sama lain. Jika diberitahukan bahwa pembimbing B berkata lain, pembimbing A (mungkin) tidak terima dan bahkan bisa sampai menuntut penilaian mahasiswa tentang siapa yang lebih pandai. Haduh! Keadaan tidak saling mendukung ini (syukurnya) diakhiri dengan salah satu pihak mengalah. Pohon mangga menjadi kurus karena makanannya dihisap oleh si benalu.

3. Simbiosis komensalisme
Yang ini seperti anggrek yang hidup dengan cara menempel di batang pohon tumbuhan lain. Yang satu beruntung, yang satu tidak dirugikan. Apa bedanya dengan simbiosis mutualisme? ‘Kan sama-sama untung. Begini… anggrek untung bisa mendapatkan cahaya matahari dengan lebih baik, si pohon tidak rugi dan tidak untung apa-apa sebab anggrek juga tidak mengambil makanannya dan tidak memberikan kontribusi aktif pada si pohon (selain si pohon makin cantik tentunya). Itu menurut pemahaman saya.  Hubungan aneh ini pernah dialami oleh seseorang yang saya kenal baik. Dia memiliki seorang dosen (Anggrek) dan seorang lainnya (Pohon). Dosen Anggrek ini mendapatkan lebih banyak ilmu dengan membimbing skripsi teman saya sementara yang satunya (pernah membuat skripsi serupa) mau dia hanya sekedar melihat atau benar-benar memperhatikan skripsi itu juga tidak ada untung atau rugi bagi dia. Hanya sekedar membimbing lalu maju ujian. Selesai.

Panjang betul ternyata ulasan saya mengenai jenis-jenis dosen pembimbing skripsi ini. Harap maklum jika banyak jenis-jenis yang belum saya ketahui karena saya yakin di luar sana masih ada cerita-cerita menarik yang belum terungkap. Sekali lagi saya ingatkan (supaya kawan-kawan tidak lagi capek-capek membaca head di atas) tulisan ini hanya untuk sharing.  Intinya yang ingin saya beritahu adalah ketika menulis skripsi itu seperti menulis bagian akhir sebuah novel. Sulit menciptakan ending seperti apa yang bagus dan tepat seperti harapan kita. Skripsi, adalah ending itu. Tidak mudah memang membuat skripsi yang baik karena manusia sendiri bukanlah orang yang sepenuhnya sempurna. Jadi, penelitian macam apappun pasti tidak ada yang sempurna.
Yang harus kawan-kawan pahami adalah bukan masalah dosen seperti apa atau jenis skripsinya apa, sebab skripsi itu menguji mental kalian. Pecuma jika pintar akademik, tapi doyan plagiat penelitian orang atau gampang K.O di tengah jalan. Jika orang-orang seperti itu lolos begitu saja, akan banyak manusia-manusia bermental tempe, akan lahir penipu yang menjadi koruptor nantinya dan lebih parah lagi, menjadi sampah masyarakat. Di sinilah mahasiswa/I di-training pengalaman hidup karena tantangan sebenarnya dimulai setelahnya.
Selamat berjuang!

CATATAN KAKI Bagian 1 Kaki-kaki di Bawah Gemintang

Aku pernah melakukan perjalanan sejauh 3 kilometer melintasi sebuah kota sepi nan kelam dengan hanya berjalan dengan telapak kakiku yang panjangnya cuma 40 senti. Sungguh melelahkan memang, namun aku menemukan sesuatu yang baru…. Sesuatu yang menggairahkan batinku yang telah renta karena lama tak menulis lagi. Selama perjalanan itu, aku mengetik kata-kata di otakku dan catatan agar aku tak lupa menulis dan membagikannya kepada kalian. Perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan penting dalam sembilan belas tahun hidupku. Ya! Aku melakukannya untuk mencapai sebuah tujuan yang penting. Tapi, ini rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam perjalanan di bawah gemintang itu, aku membangun sebuah kerangka, rencana yang aku tahu akan mengubah segalanya. Aku ingin mencapai tujuanku itu, dengan berjalan.

Pasti banyak orang-orang yang bertanya, mengapa aku harus menggunakan kakiku ketimbang mengendarai motor? Ya, aku tahu jelas jawaban itu. Sebuah tempat, yang aku tuju itu tidak jauh jika harus mengendarai motor. Paling hanya 5 menit. Bagiku, lima menit itu ada artinya. Lima menit itu bermakna karena banyak yang bisa aku lakukan dalam 5 menit. Jika aku mengendarai motor atau mobil, aku tak akan pernah mempedulikan sekitarku. Hanya hitam dan hijau… membentuk garis yang tak putus-putus jika aku mengendarai motor atau mobil dengan kecepatan tinggi. Apa yang bisa aku lihat dalam keadaan itu? Tidak ada! Aku hanya lewat, layaknya manusia-manusia yang selalu tak aku kenal bila berhenti di lampu merah. Orang-orang baru yang aku tak tahu rautnya seperti apa karena tertutup kaca helm atau gelapnya riben kaca mobil. Saat aku berjalan, semua hal termasuk semut-semut yang menjalari tembok bangunan tua-pun terlihat. Di malam itu, aku melirik hal-hal lama, namun baru aku benar-benar bisa melihat dari jarak dekat.

Sebuah gedung yang berada dalam proses pembangunan, malam itu terlihat indah dan megah. Lampu-lampu terang dari bawah dan atas bangunan memberikan kesan bahwa bangunan itu akan menjadi primadona bagi siapapun yang melihat. Ada juga bangunan tua dan terpojok, termakan kegelapan. Sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi hidup di pekarangannya, namun entah siapa yang memelihara. Kepalaku terus saja memproses apapun yang ingin aku pikirkan. Entah itu sesuatu yang baru saja aku lihat, apa yang aku ingin lakukan saat tiba nanti, bagaimana keadaan pengemis yang tidur di emperan toko, kapan aku akan wisuda… segalanya! Mungkin puluhan, bahkan ratusan hal yang melintas di rel-rel syarafku. Entah hal itu hanya sekedar lewat ataupun sebuah masalah yang ternyata bisa aku selesaikan dengan baik. Aku tak bisa melakukan hal semacam ini saat berkendara. Ya, semua hal terkesan terlalu terburu-buru bila mengendarai motor. Aku mengejar waktu yang abstrak, menangis bila aku tak dapat meraihnya. Yah…. Begitulah manusia kota. Pusing dengan diri sendiri hingga stress tak karuan karena sebab musabab yang tak nyata, tak teraih oleh tangan.

Ketika aku menapaki lagi tanah di bawahku sedikit demi sedikit, aku bertemu sesorang. Ia laki-laki dan ia bertanya,”Mau kemana?”

Aku jawab,”Ke sana.”

“Kok jalan kaki?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangkat bahu dan pergi. Lho, memangnya kenapa kalau aku berjalan kaki? Apakah ada peraturan bahwa seorang gadis tidak boleh berjalan kaki malam-malam? Memangnya semua orang harus mengendarai motor atau mobil kalau ingin pergi ke suatu tempat? Apakah aneh kalau aku memilih untuk berjalan? Banyak sekali pertanyaan yang menyesaki rongga di tengkorak kepalaku.

Ya, ada saja orang iseng yang aku temui jika aku berjalan di malam hari seperti anak kecil yang tersesat. Aku juga bertemu seorang tua yang mengendarai matic malam-malam. Ia menghampiriku dari belakang, menanyaiku dengan prihatin,”Dik, mau kemana? Pulang? Bapak antar, ya? Dimana rumahnya?”

Aku yang masih shok hanya menggeleng-geleng kepala, ingin menangis saja rasanya bertemu orang seperti bapak ini. “Oh, tidak usah, Pak. Dekat, kok. Dari sini tinggal belok saja.”

“Oh, kalau mau tumpangan, bilang aja sama bapak, ya.” Aku mengangguk dan kemudian ia pergi. Oh, ya Tuhan! Ada-ada saja rencanamu malam itu. Aku dipertemukan pada seseorang yang masih peduli dengan sekitarnya, merasa kasihan pada sesuatu yang menimpa orang di jalanan. Aku pasti takkan pernah bertemu dengan orang semacam ini bila aku mengendarai motor atau mobil. Orang-orang seperti bapak itu akan terlewat begitu saja. Hati tulus seperti itu… kita bahkan tak tahu siapa yang benar-benar memilikinya. Aku sempat berpikir, orang zaman dahulu ketika kendaraan merupakan sesuatu yang ‘mahal’ sehingga lebih memilih berjalan kaki, lebih jauh peduli terhadap sesuatu. Mungkin karena apa yang aku alami. Aku lebih mencintai seluk beluk kota sepi nan kelam ini, aku lebih peduli dengan detail-detail dan kebobrokan di balik kemegahan. Ah, tapi itu cuma hipotesis asal-asalan semata!

Kembali lagi kaki-kakiku berjalan menempuh rute yang sudah aku hafal enam bulan belakangan ini. Aku mencintai jalan ini, jalan yang dekat dengan kuburan dan jembatan serta sungai yang deras di bawahnya. Aku mencintai setiap kenangan ketika melewati jalan ini. Aku mencintai orang-orang yang aku ajak saat melewatinya. Aku mencintai apapun hal yang terjadi di sepanjang 3 kilometer ini. Ah… aku juga mencintai orang-orang yang memperkenalkan jalan ini kepadaku. Sebuah jalan beraspal dan riuh rendah di siang hari tersebut ternyata adalah jalanku menuju sesuatu yang lebih besar… sesuatu yang akhirnya menjadi sebuah batu loncatan pada hidupku yang standar. Sesuatu yang akhirnya aku dapatkan setelah lelah berjalan di antara neraka jahanam ini. Beberapa menit setelah aku berpikir demikian, aku akhirnya sadar. Dunia semakin berkembang, membentuk sebuah peradaban baru yang sangat cepat. Benda-benda pun dirancang untuk mempermudah kegiatan seseorang. Namun, terkadang, kita harus berhenti sejenak… berlambat-lambat sebentar untuk melihat sekeliling kita, meratapi yang sebenarnya terjadi di jalanan. Tidak ada salahnya untuk lelah berjalan, lelah berpeluh-peluh. Aku pun belajar darinya. Pelajaran berharga dimana kita harus tahu bahwa tak selamanya kita bisa mencapai tujuan secepat yang kita mau. Pelan-pelan saja karena sebenarnya orang yang berjalan pelan adalah orang yang lebih banyak belajar sesuatu… lebih teliti dan peduli. (photo: facebook.com)Image:

Kisah Si Jeruk Oranye

Di sebuah perkebunan jeruk yang sejuk dan luas, beberapa petani sedang sibuk memetik buah jeruk yang matang dengan ciri berwarna oranye terang. Namun, saking sibuknya, petani-petani itu tidak mendengarkan percakapan beberapa buah jeruk di salah satu pohon.

“Akulah jeruk yang paling manis di pohon ini. Lihatlah kalian! Masih hijau dan kecut,” kata satu buah jeruk yang dengan sombongnya memamerkan warna tubuhnya yang terang mengkilat dan lebih besar daripada yang lainnya.

“Ah, nanti aku juga akan seperti kamu. Tunggu saja,” timpal si buah jeruk hijau yang masih kecil dan kecut.

“Kamu mungin bisa seperti aku, berkulit terang dan indah. Tapi, kamu belum tentu semanis aku.”

Namun, percakapan mereka terhenti karena ada beberapa pengunjung perkebunan datang untuk memetik. Di perkebunan itu, pengunjung boleh memetik buah jeruk yang sudah ranum. Buah-buah yang sudah mereka petik bisa dibawa pulang atau mereka nikmati di kebun langsung.

Seorang gadis kecil, berusia kurang lebih lima tahun sedang memperhatikan satu pohon jeruk tempat si jeruk oranye dan hijau tadi berdebat. “Dia pasti menginginkan aku!” bisik jeruk oranye bangga kepada jeruk-jeruk hijau yang tumbuh di bawahnya. Benar saja! Gadis kecil itu merengek minta diambilkan jeruk yang ranum dan besar itu.

Namun, orangtuanya meminta gadis itu mencari buah-buah ranum di pohon lain,”Buah itu ada di tempat yang terlalu tinggi, Nak. Ayah tidak bisa mencapainya.”

Gadis itu, dengan linangan air mata, bergegas mencari buah-buah jeruk ranum lainnya. Begitulah… setiap hari sampai sebulan berikutnya, tidak ada yang bisa mengambil buah jeruk oranye itu. Para pengunjung malas untuk menaiki tangga dan mengambilnya. Sementara itu, para petani tidak lagi bisa melihat si jeruk oranye karena lebatnya daun yang menutupi tubuhnya. Seiring berjalannya waktu, jeruk-jeruk hijau yang dulunya kecil dan masam, berubah menjadi oranye dan berbuah manis. Dagingnya tebal dan bentuknya besar. Sedikit demi sedikit, buah-buah itu dipetik dan dinikmati oleh siapa saja.

Bagaimana dengan nasib si buah oranye yang sombong itu? Oo…! Karena sudah lama tidak ada yang memetiknya, buah itu dimakan oleh ulat dan akhirnya jatuh ke tanah dan membusuk tanpa ada seorangpun yang sempat mencicipinya.

sumber foto: http://www.google.comImage

Biru (Blue)

Kalau guru bertanya ,”Apa itu biru?” If the teacher asks,”What is blue?”

Aku jawab,”Itu kamu.” I answer,”Blue is you.”

 

Bukan biru yang ada di langit, Neither blue in the sky

Bukan biru yang ada di air, Nor blue in the water

Tapi biru yang ada di matamu… But, blue in your eyes

 

Christopher dari Manhattan Christopher from Manhattan

Biru matamu memperkosaku Your blue eyes violate me

Melepaskan baju dukaku Release my dress of pain

Meraba-raba luka di dadaku Touch the scar in my chest

Lalu mencumbu kepedihanku sampai pagi Then, kiss my sorrow till morning

 

Ketika aku membuka mata When I open my eyes

Yang tertinggal hanya cinta There’s only love left

Namun, kau tak di sana But, you are not

 

Biru, kamu dimana? Blue, where are you?

 

Dalam selembar kertas

Dalam selembar kertas,

Ia mengaitkan abjad-abjad,

Menjadi aksara-aksara bermakna,

Menggantung di ranting tinta,

Dan berakhir di ujung cerita,

Dalam selembar kertas,

Ada sisipan yang tak berarti,

Tanpa perlu Tuhan mengerti,

Ia telah berbisik,

Tentang kehamilan sebuah duka,

Yang ia sendiri tak mampu lagi ungkit,

Bahkan ia bagikan di atas tuts-tutsnya,

Dalam selembar kertas,

Takkan ada lagi kaitan abjad-abjad,

Atau aksara-aksara bermakna,

Yang menggantung di ranting tinta,

Ataupun berakhir di akhir cerita…

;Kertas dan  dirinya meniada…

 

Singaraja, 21 Februari 2012.

Mak Inah

Mak Inah

I had never proud to have mother like my mom. She was the one who I won’t to remember anymore. This feeling was piled up and became rotten day by day, every second in my life until God took her soul. Frankly, I did it just because my mom was a whore. Do you know? Women who sell herself in the side of road at midnight — with stars and moon as their friend every night and sun is sung a lullaby for them in the morning, one of them was my mom.  They are not has any different with a dirty privy where men canalized their desire. Sometimes, they came to my home and did it there, with my mom. I had ever heard their disgusting voice from her bedroom that beside mine. One day, she ever said something that I’ve never forget. ” When you grow up, don’t you seek for a job with this,” she pointed at her head,” but, with this.” Her finger went down and then pointed at her privates. Lucky, I didn’t vomit at that time! But, it was just a donkey’s year story. After she had passed away, I lived with Mak Inah because I had nobody in this word and nobody could help me from the financial problem. Actually, my mom had a loan and it was such as burdens for me, the twelve-years-old-girl. My father? Who was my father? I didn’t know him since I was born in this world. I just hope that my father was only one, not two. My mother never told about him. I had ever asked it, but then, my mom got angry to me. “Don’t care about him! I just leave him alone because he is too poor to feed us. Do you want to be a beggar outside there? You’ll dishonor me, honey.’ “I just consider him. I never see his face. My friends ask me at school today and I don’t know what I have to answer.” “Really? Just say that he is died.” “But, he doesn’t really die, does he?” My Mum, who was cutting her hair, suddenly stopped what she did. “I have just told you, don’t you ever asked about him!” I just kept silent and went away from her room that smells bad; alcohols, cigarettes, dirty attire. “You just build a castle in the air if you asked her some more questions. You have us, who loved you. Don’t be care about someone who never ever be for you,” said Mak Inah. I smiled to her and realized that neither my mom, nor my daddy was happy with me. My life would be like cats and dogs if we lived together. From that day on, Mak Inah always took care of me. She was my great neighbor all at once as my second mother because every time my mom didn’t cook something, she always feed me. Mak Inah’s husband was going to place somewhere and never come back again. So, sometimes I called her Lonely Mak. But, I loved her so much. She had the only daughter named Diah. She was three years younger than me, but smart and diligent. Diah didn’t continue her study because Mak Inah hadn’t enough money to pay the school fee. Besides, Diah was paralyzed. She couldn’t go around and played with me outside. What a pity little girl! But, I appreciated her fight to study. After I had came back from school, Diah asked me about the lesson that I‘d learn. So, compared with child in the same age with Diah, she absolutely was the cleverest because she learnt the lesson that her seniors’ got. Mak Inah knew that and thanked to me. But, it less than what that Mak Inah had been giving to me. Often, I gave up and wanted to die rather than lived like out of frying pan and jump to the fire. But, Mak Inah always said,”Riri, every cloud has a silver lining, honey. Don’t give up.” “I can’t, Mak. I’m good for nothing and I haven’t any power anymore! I can’t, Mak! I can’t!” I cried. Mak Inah said nothing, but she hugged me very tight. I understood now, Mak Inah had more burdens in her shoulder than me. She never cried because she said that cry makes her weak. Mak Inah likes to smile, to everyone, every day. Same with this early in the morning, she sold traditional cakes from one village to another or walking around town. “Cakes… cakes,” she yelled happily to every kid around her. Fortunately, I had been getting a holiday for a week because I had finished my exam. I could help Mak Inah and took care of her because she rarely got headache and droopy at noon. She couldn’t stand under the extremely hot sunshine too long. Some cute and dirty kids were running to us and chose one of the cakes which they liked. They had been playing football at the city park. Some people refused to buy some Mak’s cakes and preferred to eat the modern cakes such as donuts, black forest, pizza……. They didn’t care about the traditional food that had been extinct in my village. “Mak,” I called after we have finished sold half of the cake before noon,” I’m so thirsty.” “Okay, I’m going to find the water. Please wait here, little girl.” Mak Inah walked around to find a little shop on the side of road while was bringing her small tray. Then, she finds it across the street. But, Mak Inah didn’t look around her and directly ran to the store quickly. It made the chauffeur of BMW shock and hadn’t opportunity to change the steering wheeled. Mak Inah shouted. I reflected to turn my head and see her small tray bleeding. *** I felt drowsy and accidentally slept at waiting room in the hospital. It had been 5 hours since I sit here. Doctors only said once,” She is okay, but must take a rest for a moment. Her head’s condition is getting worst. Don’t worry. Just let her alone and don’t disturb her while she is sleeping. It can quicken the healing of her head.” Then, he went to another room with his nurse. Something cold was touching me when I slept. That’s Mak Inah with her small tray. She was smiling to me and said,” I am going to sell half of the cakes. I will be back at seven. You can go home and take care of Diah for me after you have awakened. Bye, little girl.” With a half soul in me, I was nodding my head then back to sleep. Five second later, I suddenly woke up and felt confuse. Had I just dreamed? Or, was it real? Instinctively, I looked at her room. Mak Inah was sleeping quietly. But then, I realized, she didn’t take her breath anymore.

Pande Putu Resita Wulan Prabhawati/II B/1012021157

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.