Catatan Kaki Ibun

Ibun bukanlah Wonder Woman. Ibun adalah manusia. Sosoknya bisa saja terlihat perkasa, tapi dia juga bisa putus asa.

Ibun bisa tertawa, terbahak-bahak pada suatu hal yang biasa. Bahkan mungkin tak lucu. Ibun bisa menangis, terserak karena menahan raungan hatinya. Tapi, ia menangis bila asanya tak kuat. Tangisnya mungkin begitu mahal. Maka, tiap tetesnya berarti.

Ibun bukan sosok yang sempurna. Ibun bahkan kadang lupa harus bagun pagi untuk membuat sarapan sebab Ibun terlalu lelah. Atau kadang juga karena terlalu malas.

Ibun juga butuh waktu sendirian karena 365 harinya dibagi untuk mereka yang ia cintai. Kadang ia lupa pada dirinya sendiri, bahwa jam 7 pagi ia harus makan. Kalau tidak, maagnya kambuh. Tapi, ia malah menghabiskan waktunya di jam 7 itu memberi makan anak kesayangannya… suap demi suap. Ibun baru akan sadar ia belum makan jika matanya sudah berkunang dan perutnya sakit.

Begitulah Ibun. Maka tak heran, seorang Ibun bisa begitu egois.

Maafkan Ibun.

Maafkan Ibun.

Maaf.

Kalah

Aku

Ingin

Menyerah

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku ingin menyerah.

Menyerah dengan semuanya.

Mungkin aku memang dilahirkan untuk menjadi biasa-biasa saja. Bukan untuk menjadi luar biasa. Ah, biarkan saja aku menjadi biasa. Menjadi itu-itu saja.

Kulihat lagi sepasang mata mungil yang kini kuncup. Horor itu datang kembali.

Aku (tak bisa) menyerah.

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku (tak bisa) menyerah.

Anakku membutuhkanku. Aku tamengnya. Aku yang akan menuntunnya. Aku Ibunya, yang harusnya kuat bertahan di tengah badai dan alam yang bergejolak.

Kenapa aku lemah sekali? Pikirku.

Bukankah dulu pun aku pernah menyerah? Apa bedanya dengan yang ini?

Ah, bagaimana ini? Apakah aku harus menyerah? Atau berserah?

Aku berdiri pada kedua pertanyaan itu dan hampir limbung, hampir jatuh ke jurang. Aku tak bisa menalar, pikiranku bukan milikku lagi. Bagaimana ini?

Aku menutup mata karena malam sudah tiba. Delapan jam lagi aku harus bagun, masak yang cukup untuk sarapan, mandi, memandikan anakku, sarapan, bekerja, pulang, bertemu kembali dengan anakku, membersihkan rumah, memasak lagi, mandi, mencuci, memandikan anakku, makan, memberi makan malam anakku, bekerja sampai larut, lalu tidur dan… Esoknya pun tak jauh-jauh dari rutinitas itu. Dengan sisipan masalah-masalah di antaranya. Masalah-masalah yang akan menggugis mentalku.

Tapi… Aku harus tidur. Besok aku harus bangun. Demi anakku. Demi aku. Demi masalah-masalah yang harus diselesaikan.

Catatan Kaki SMA

Motor Kesayangan

Juli, 2009


Di hamparan parkiran sekolah yang luas—sebenarnya itu lapangan basket dan voli—aku memperhatikan ratusan anak yang datang pagi itu. Terutama kendaraan yang mereka bawa. Hampir semua, jika aku tak salah lihat, motor yang dijejer rapi di sana adalah keluaran motor matic terbaru. Mereka motor ompong, tidak ada giginya. Tapi kinclong di bawah paparan sinar matahari yang hangat.

Mungkin hanya motorku yang masih dengan giginya, keluaran sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Jika ditanya, apakah aku senang dengan motor itu, aku jawab ya (enam atau tujuh tahun lalu). Ketika motor itu masih mulus, mesinnya berbunyi halus dan banyak pengendara yang memilih membawanya kemana-mana. Aku ingat betul saat berhenti di lampu merah, hatiku senang melihat ada “teman” sesama jenis motor itu dengan sama atau beda warna. Pokoknya waktu itu, motor tersebut sangat terkenal. Selain murah, irit bensin juga.

Merk-nya SMACK, warna hitam dengan desain yang simple dan menurutku oke di masanya. Papaku bertugas untuk membawanya, mengatarkan ia dan anak-anaknya pergi ke sekolah, kembali ke rumah, ke rumah Nini atau sekedar belanja ke warung. Itu motor kedua di keluarga kami. Tapi, bukan kami yang beli. Itu punya Om-ku, Mama meminjam darinya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Bukankah Om-ku begitu mulia?

Motor pertama adalah motor kantor Mamaku, tidak ada yang boleh mengganggu gugat penggunaanya. Jadi… aku sekeluarga tidak punya motor resmi atas nama kedua orang tuaku. Keduanya hasil pinjaman.

SMACK adalah motor yang juga aku gunakan untuk belajar berkendara saat di usia 15 tahun. Saat aku sudah mantap naik motor, penggunaanya jatuh ke tanganku. Dengan semua yang tersisa dalam diri SMACK, aku mengendarainya untuk menempuh pendidikan di sebuah SMA Kristen.

Kami (aku dan SMACK) melewati hari-hari penuh kasih, namun terkadang SMACK sangat kelewatan. Bayangkan saja, dia bisa pecah ban sampai dua kali sebulan! Karena faktor dari dalam juga (hampir tidak pernah Mama dan Papaku bilang soal servis-menyervis SMACK), kadang aku terpaksa harus membawanya ke sebuah bengkel yang belum buka sekalipun. Keringat yang mengucur di bawah matahari terik musim kemarau itu membuat baju dan jaketku yang tipis seperti habis dibasahi seember air.

Seorang teman yang melewatiku di kelas mendengus dengan kesal dan dengan ‘polosnya’ bertanya,”Siapa yang bawa telor busuk ke sini?”

Itu aku.

Bukan, maksudku bukan bawa telor busuk. Tapi, (mungkin) aku yang berbau seperti itu karena keringat yang berlebih. Malu? Iya!

Hanya saja aku tidak segera menimpali atau bertanya jika benar itu karena dia mencium bau keringatku kepada teman yang lain. Yang lebih parah lagi, waktu pecah ban di sekolah. Saat hendak pulang aku menyadari bahwa ban belakang SMACK tidak sekencang tadi pagi. Kempes.

Dalam keadaan tidak punya uang dan harus segera pulang untuk ikut les, cara yang terpikir olehku saat itu adalah menuntunnya pulang. Tapi, sama sekali tidak pernah aku pikirkan adalah razia polisi dadakan di dekat—maksudku hanya satu kilometer—rumahku. Ah, aku kan membawa motor kempes, tidak sedang menaikinya. Mana mungkin aku dirazia? Batinku.

Dengan tanpa dosa (baca: bodoh) aku melewati polisi-polisi tersebut yang ternyata mencegatku. Menanyakan SIM dan STNK yang jelas-jelas tidak kupunya. Menelpon Mamaku hanya sia-sia karena pulsa yang tersisa hanya Rp 1. Akhirnya aku hanya bisa pasrah melihat Pak Pol menuliskan surat tilang dan membawa serta motorku dengan ban kempesnya.

Sepanjang perjalanan pulang, hatiku berkecamuk. Aku menangis. Menangisi semuanya. Aku hanya bisa menyodorkan secarik kertas kuning tanda cinta dari Pak  Pol kepada Papa. Endingnya lumayan tragis. Aku tidak akan menceritakannya. Tapi, SMACK kembali ke pelukan kami. Itulah awal mula aku mendapatkan SIM.

Perlu diketahui sebenarnya aku tidak percaya diri ketika harus membawa SMACK ke sekolah karena usianya yang renta. Aku sebagai pemilik kedua juga tidak punya modal untuk merawat motor tersebut. Sayap motor yang retak, bodi motor yang berbunyi saat melewati jalan rusak, jok yang tidak bisa dikunci lagi, aki yang tak tergantikan, pijakan kaki penumpang yang tersisa hanya satu… semua kubiarkan. Bahkan ketika baut di plat motor hilang, aku memasangnya kembali dengan tali rafia hijau.

Apalagi temanku hampir setiap pagi memintaku untuk menjemputnya. Dia hanya bisa memaklumi keadaan SMACK. Sambil juga aku memendam malu karena SMACK tidak seganteng motor temanku yang lain.

Selepas SMA, SMACK digantikan oleh SUPRI, motorku yang baru. Mama membelikannya karena aku lulus perguruan tinggi di luar kota. Sepeninggalku, SMACK kembali ke Papa dan ketika aku kembali, SMACK yang telah begitu sabar terlihat semakin renta. Mesin motornya minta diturunkan, diganti yang baru. Suaranya seperti panci Mama kalau dipukul dengan sodet.

Akhir cerita SMACK tidak diturunkan mesinnya. Dia diparkir di halaman belakang, berdebu dan tidak gagah lagi. Kemudian ada empat motor yang menggantikan tugasnya. Masing-masing untuk tiga adikku dan satu lagi untuk Mama atau Papa. Kadang aku melupakan SMACK dan kewajibanku untuk ‘mengobati’-nya. Dan ketika aku ingat lagi, itu karena aku mengenang perjalanan kami lewat tulisan ini. 

Kisah Seekor Katak Kecil

Di sebuah kolam yang besar dan tenang, hiduplah seekor katak bernama Odi. Ketika ia masih berupa kecebong, Ayah dan Ibunya dimangsa binatang lain. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain tidak mampu bertahan hidup saat badai paling ganas menimpa daerah tersebut. Jadilah Odi hidup sebatang kara. Namun karena kolam yang besar itu banyak dihuni kata-katak lain, ia tidak merasa kesepian.
Hanya saja, jauh di dalam hatinya, ia merasa kecil. Itu karena kedua kaki belakang Odi yang lebih pendek daripada katak-katak lain seusianya. Sehingga, ia selalu menjadi yang paling belakang ketika melompat bersama teman-teman yang lain. Odi merasa sangat iri saat banyak katak yang memuji Hugo, si pelompat ulung.
Hugo mampu melompat sangat tinggi, hingga katanya seolah-olah ia mampu mencapai langit. Ia juga mampu sampai ke ujung padang rumput di bibir hutan hanya dalam beberapa lompatan saja. Namun, ia bukanlah katak yang ramah. Hugo terlalu sombong untuk sekedar menyapa Odi.
Dia bahkan mengejek Odi beberapa kali hingga suatu hari Odi berkata,”Hai, Hugo. Kalau memang benar lompatanmulah yang paling hebat, kau harus berani menantangku.”
Hugo yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak,”Siapa kau berani menantangku?”
“Banyak katak yang memuji kehebatan lompatanmu, tapi apakah kau pernah mengujinya dengan katak-katak yang lain?”
Mendengar kenyataan itu, Hugo merasa geram. Ia ingin agar katak kecil itu tahu bahwa kaki-kaki pendek tersebut tidaklah sepadan dengan kemampuan kaki belakangnya yang luar biasa. “Baiklah,” katanya,”besok pagi, kita akan bertemu di ujung padang rumput. Siapa yang tiba lebih dulu sampai ke garis akhir, dialah pemenangnya. Jika kau kalah, aku akan menjadikanmu pesuruh. Begitu pula sebaliknya.”
Odi merasa sangat gugup. Sepanjang malam, ia memikirkan berbagai cara agar bisa mengalahkan Hugo. Tidak terasa, matahari hari itu terbit lebih cepat. Katak-katak lain sudah bangun dan menanti mereka berdua di pinggir padang rumput. Tidak ada yang mau melewati kompetisi ini. Banyak yang bersorak untuk kemenangan Hugo. Hanya beberapa teman dekat Odi yang menyemangatinya. Odi memandang teman-temannya dengan tatapan ragu-ragu.
“Siap!” teriak Ketua Suku Katak,”mulai!”
Hugo yang berada di samping Odi kini hanya bayangan di bawah sinar matahari, jauh di atas kepala Odi. Maka, ia segera memulai lompatannya. Satu, dua, tiga… empat! Saat hitungan ke dua puluh, Hugo masih jauh beberapa puluh meter di depannya. Di tengah padang rumput, Odi berpikir untuk berhenti. “Mengapa aku harus menantang Hugo?” begitu pikirnya. “Mengapa aku harus membuat masalah kepada diriku sendiri?” tambahnya lagi.
Namun, Odi juga tidak mau Hugo kembali menyombongkan kemampuannya tersebut. Sulit baginya untuk membayangkan menjadi bahan ejekan katak berbadan besar itu saat tiba di garis akhir nanti. Maka, dia terus melompat. Hap! Hap! Hap! Matahari semakin panas hingga membuat Hugo dan Odi kehausan. Hugo berhenti sejenak di tengah padang, namun menyesalinya kemudian karena ternyata rasa haus tidak menghentikan Odi untuk terus melompat dan melompat!
Beberapa meter dari garis akhir, mata Odi berkunang-kunang. Ia berhenti sejenak untuk melihat Hugo dengan lihainya melompat setinggi langit. Mata Odi memicing ketika memandangi lawannya yang melompat seakan hendak menggenggam matahari tersebut. Ia dapat mendengar tawa Hugo, yakin bahwa dirinya-lah sang pemenang. Namun, saking tingginya ia melompat, ia tidak melihat ada sebuah lubang tepat di tempatnya mendarat dan… tawanya berubah menjadi teriakan yang menggaung hingga ke dasar lubang. Kemudian, tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan sang calon jawara.
Katak-katak yang menonton, termasuk Odi, mendekati lubang yang gelap tersebut. “Hugo telah hilang ke dasar bumi!” seru salah satu katak.
“Malangnya nasib Hugo.”
Padahal aku telah yakin bahwa ia yang akan menang.”
“Mungkin ia sudah dimangsa oleh ular yang menempati lubang ini!”
Begitulah kata-kata yang diucapkan katak-katak lain. Baginya, sangat mengejutkan melihat lawan mainnya melompat dan mendarat entah dimana. Penonton kompetisi tersebut memandangi Odi. Mereka tidak bertepuk tangan dan menyudahi kompetisi dengan pulang kembali ke kolam sebelum senja.
Odi memandangi lubang tersebut. Bahkan katak-katak yang dulu memuji Hugo tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Ada rasa kasihan yang terbesit di hati katak berkaki pendek itu. “Seharusnya aku tidak memulai kompetisi ini,” sesalnya dalam hati. Ia berbalik ke kolam sesaat setelah do’a ia berikan untuk katak yang selalu mengejeknya tersebut. Sejak itu, tidak ada lagi yang berbicara tentang kompetisi. Bahkan tidak ada yang merasa kehilangan dengan ketiadaan Hugo di antara mereka. Semua kembali hidup seperti biasa. Termasuk Odi yang berjanji pada dirinya sendiri untuk hidup dengan apa yang dia miliki.

Orang-orang di Sudut Mata

Ada wanita, duduk di pinggir jalan. Lusuh, rambutnya berpeluh. Wajahnya menua karena waktu yang tidak memiliki iba. Padanya yang duduk sebatang kara. Digaruknya hidung, leher… hidungnya lagi. Penampilannya tak keruan. Yang dijinjingnya hanya sebuah plastik bergaris hitam putih. Sebuah botol yang bagian atasnya menyembul dari kerah kaus lusuhnya. Di bawah temaram lampu kuning Jalan Gajah Mada, dia hanya wanita di sudut mata.

Laki-laki paruh baya, yang rindu akan keluarga, bersiap-siap tidur. Hatinya lelah karena lembur. Maka, di antara toko yang masih buka dan yang sudah tutup itu, ia menggelar tikar. Tangannya sibuk melipat sarung satu-satunya. Namun, ada beberapa tas yang ia bawa. Apa gerangan isinya? Siapa yang tahu. Siapa yang mau tahu? Hidup di kota, tidak ada yang mau mendengar derita kalau bukan miliknya. Dia hanya lelaki di sudut mata. Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa. 

Buah-buah Untuk Pak Monyet

Hutan di balik bukit sedang ramai. Ya, hari ini adalah musim buah-buahan. Apapun jenis buah yang ditanam seluruh hewan di hutan akan berbuah. Ada rambutan, durian, mangga, duku, salak, jeruk, apel, anggur, semangka, melon, dan banyak lagi! Tidak ada hewan yang bermalas-malasan di dalam rumah pohon atau sarangnya. Burung, jerapah, rusa, kambing, kura-kura, landak, bahkan gajah ikut dengan tulus membantu membawakan berbagai macam buah ke sarang hewan-hewan pemakan tumbuhan lain.
Pak Monyet pun bangun pagi dan memetik buah di dekat pohonnya. Tapi, badannya yang sudah tua tidak memungkinkan dia untuk memanjat pohon-pohon lain. Sebelum matahari berada di atas kepala, Pak Monyet berhenti memetik buah dan duduk di atas pohonnya. Hanya satu keranjang pisang yang ia dapat hari itu. Namun, Pak Monyet bersyukur karena masih bisa makan buah hasil panen.
“Hai, Pak Monyet!” sapa burung merpati,”mengapa Anda duduk saja di atas pohon?”
“Ah, aku begitu lelah hari ini setelah panen,” jawab Pak Monyet.
Burung merpati bertanya lagi,”Mengapa Anda tidak meminta tolong hewan-hewan lain?”
“Tidak perlu. Mereka sudah cukup membantuku saat panen tahun lalu. Sekarang, biarkanlah aku sendiri yang memetik buah-buahan itu,” katanya.
“Tapi, apakah sekeranjang pisang cukup untuk makan Anda?”
“Tentu tidak,” jawab Pak Monyet dengan senyuman yang hangat. “Aku akan memetik lagi besok.”
Burung merpati yang penuh belas kasih itu berpikir untuk membantu Pak Monyet. Maka, dengan segera dia memanggil beberapa tema-teman hewan yang lain. Kuskus Tikus Tanah, Bibi Babi, dan Jeje Jerapah yang saat itu sedang duduk di bawah pohon dengan senang hati membantu Merpati untuk menolong Pak Monyet.
“Aku akan membawakan kacang tanah untuk Pak Monyet!” seru Kuskus Tikus Tanah.
“Mamaku memanen banyak apel hari ini. Aku bisa memberikan sekeranjang untuknya,” kata Bibi Babi. Dia sangat gembira.
Jeje Jerapah berpikir dan berseru girang,”Semangka-semangka dan jerami untuk membuat atap di pohon Pak Monyet pasti akan membuatnya senang.”Merpati terharu dengan kebaikan teman-temannya itu. “Terima kasih, teman-teman. Aku juga akan membawakan jagung-jagung manis untuknya.”
“Apakah kamu sudah memberitahu Pak Monyet kalau kita akan membantunya?” tanya Bibi Babi.
“Aku belum memberitahu Pak Monyet,” kata Merpati.
“Wah, ini pasti akan menjadi kejutan yang menyenangkan!” seru Jeje Jerapah bahagia.
Maka, mereka berempat kembali ke sarang mereka masing-masing. Mereka memberitahu orangtua mereka yang masih memanen buah tentang rencana untuk membantu Pak Monyet. Ternyata, orang tua mereka setuju dengan rencana tersebut. Dengan dibekali buah-buahan hasil panen, mereka berkumpul kembali dan berangkat bersama-sama ke pohon Pak Monyet.
Tempat tinggal Pak Monyet memang agak jauh, di dekat sungai besar. Di tengah-tengah perjalanan, Bibi Babi mulai kelelahan. “Aduh, aku capek!” keluh Bibi Babi.
Ayo, kita hampir sampai!” kata Merpati menyemangati.
Ternyata, Kuskus Tikus Tanah dan Jeje Jerapah merasakan hal yang sama. “Bisakah kita menepi sebentar?” tanya Kuskus Tikus Tanah.
“Jika kita menepi, kita akan terlambat sampai ke pohon Pak Monyet dan kembali ke rumah kita ketika matahari terbenam,” kata Merpati.
“Huh, kamu enak bisa terbang. Kamu tidak merasakan kelelahan seperti kami,” ujar Bibi Babi agak kesal. Tanpa pikir panjang, dia terus berjalan sambil mengambil sebuah apel untuk dimakannya. Jeje Jerapah juga memakan sebuah semangka yang dibawanya untuk mereda kehausan.
Tak ketinggalan Kuskus Tikus Tanah ikut-ikutan membuka keranjang berisi kacang tanah yang dipanen pagi itu. Kacang-kacang yang masih segar itu segera masuk ke perutnya hingga membuat Kuskus semakin gendut. Setelah makan, mereka malah semakin malas dan mengantuk. Langkah mereka semakin lama semakin berat.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar gemerisik pohon-pohon dan suara itu berhenti tepat di dekat mereka. Ternyata itu Pak Monyet yang sedang berjalan-jalan. “Mengapa kalian ada di sini? Hari sudah sore, sebaiknya kalian pulang.”
“Sebenarnya kami ingin sekali memberikan kejutan untukmu,” kata Merpati sambil memperlihatkan keranjang-keranjang buah yang mereka bawa. Jeje Jerapah meyodorkan keranjang berisi semangka dan jerami hangat untuk Pak Monyet. Namun, ia tidak menyadari bahwa semangka yang diletakkan di atas jerami hanya tersisa satu buah dari lima buah yang sebelumnya ia bawa.
Kuskus Tikus Tanah harus menahan malu karena keranjangnya penuh dengan kulit kacang. Kini ia bahkan tidak bisa menghitung berapa biji yang masih utuh untuk diberikan kepada Pak Monyet. Bibi Babi menoleh untuk melihat keranjang buah berwana pink yang kini kosong! Apel-apel itu sudah dimakannya dengan lahap sampai ia lupa diri. Hanya jagung manis milik Merpati saja yang masih utuh.
Kuskus Tikus Tanah berkata,”Dalam perjalanan, kami memakan beberapa buah. Tapi kami tidak menyangka kami memakan hampir semua buah yang akan kami berikan.”
“Aku bahkan sudah memakan semuanya!” kata Bibi dengan wajah muram.. Tak disangka, Pak Moyet malah tertawa melihat Kuskus, Jeje dan Bibi.
“Mengapa Anda tertawa, Pak Monyet?” tanya Merpati.
“Hahaha… kalian sebenarnya tidak perlu repot-repot. Tapi, aku tetap berterima kasih atas kejutan kalian.
Pak Monyet membawa keranjang-keranjang tersebut dan mengajak mereka mengunjungi rumah pohonnya. Saat itu, matahari sudah terbenam dan Pak Monyet menyarankan agar mereka pulang esok hari saja. Merpati ditugaskan untuk membawa berita tersebut supaya orang tua mereka tidak khawatir. “Aku akan kembali ke rumah lebih dulu. Tapi, esok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi menjemput kalian,” janji Merpati. Ia tersenyum penuh arti.
Jeje Jerapah yang mendapat bagian tidur dekat dengan jendela bertanya,”Pak Monyet, apakah kami boleh membantu untuk memetik buah-buahan segar di luar sana? Sepertinya masih banyak buah selain pisang yang bias kau makan.”
Pak Monyet mengangguk dan seketika anak-anak tersebut bersorak gembira. Esok hari, mereka bahkan bangun sebelum ayam hutan berkokok. Dengan sigap, mereka saling membantu untuk memetik pisang dan beberapa buah apel lezat. Bibi Babi berusaha untuk tidak memakan sebuah pun dan ia berhasil! Isi keranjang itu penuh dan wajah Pak Monyet yang keriput itu berbinar. Ia yang baru saja bangun merasa sangat bahagia hari itu. Anak-anak tersebut menebus kesalahannya kemarin dan Pak Monyet bangga mereka mampu memetik buah-buah itu sendiri.
Tiba-tiba, suara bedebum dan gaduh terdengar dari dalam hutan. Merpati pagi itu terbang di atas rumah pohon Pak Monyet dna bercuit-cuit senang. Oh, ternyata ia mendatangkan Boni Gajah dan anaknya, Omi Orang Utan, Riri Rusa dan orang tua Kuskus, Jeje, Bibi serta Ibu Merpati. “Kejutan!” seru Merpati riang gembira. Ia masih ingin memberikan kejutan yang menyenangkan bagi Pak Monyet.
“Wah, menyenangkan sekali kalian datang ke rumahku sepagi ini,” kata Pak Monyet, senyum tersungging di bibirnya. Kuskus, Jeje dan Bibi menghampiri orang tua mereka dengan wajah berbinar. Ibu Merpati dan Riri Rusa membawakan beberapa keranjang berisi buah mangga, kacang, jeruk dan leci segar. “Ini buah-buahan untukmu, Pak Monyet. Kami mendengar anak-anak memakan buah-buah yang dikirim kemarin. Untuk membalasnya, kami berniat memberikan lebih banyak lagi.
Pak Monyet sangat terharu. Anak-anak hewan itu memeluk Pak Monyet yang tua dengan hangat. Hari ini akan ada lebih banyak buah yang bisa dinikmati oleh Pak Monyet, batin mereka. “Tenang saja, Ibu. Aku dan teman-teman sudah memetik beberapa buah pagi ini untuk Pak Monyet,” tunjuk Kuskus Tikus Tanah ke arah keranjang penuh pisang dan apel. Para orang tua tertawa gembira dan memeluk mereka dengan bangga!
Boni Gajah dan anaknya memperlihatkan seruling bambu dan sebuah drum dari batok kelapa,”Nah, bagaimana kalau kita mengadakan pesta buah-buahan untuk Pak Monyet? Aku dan anakku akan menyumbangkan musik untuk kalian semua!” Seluruh hewan yang datang setuju dengan bersorak-sorai. Pagi itu mereka menikmati buah-buahan segar sambil berdansa diiringi musik yang indah.

The Night Circus:Menjelajahi Mimpi dalam Permainan Ilusi

Kisah yang ditulis oleh Erin Morgenstern ini  bermula dari Prospero sang Pesulap yang mendapat surat dari seorang wanita, dikirim beserta seorang gadis kecil. Celia Bowen, gadis berambut ikal dan bermata hitam itu merupakan anak kandungnya. Ia mewarisi keahlian sang Ayah sebagai pemain ilusi. Namun, ia tidak menyangka bahwa Hector Bowen—nama asli Prospero, membuatnya tidak memiliki pilihan selain mengikuti sebuah tantangan dengan saingan Ayahnya, Alexander. Gadis itu masih ingat cincin yang disematkan Alexander ke jari manisnya, meninggalkan bekas dan rasa tidak suka pada pria misterius tersebut. Pada bagian satu, diceritakan pula seorang anak yatim piatu, kelak menamai dirinya Marco Alisdair, yang diangkat menjadi murid oleh Alexander. Ialah anak biasa yang akan menjadi lawan Celia. Kecerdasan dan ketekunannya membuat Marco menguasai trik-trik sulap beraroma sihir dengan waktu singkat. Namun, baik Marco maupun Celia sama-sama kehilangan masa-masa kecilnya. Hidup mereka penuh dengan latihan dan rutinitas yang menjemukan. Keduanya sampai di suatu titik dimana mereka sangat membenci guru masing-masing, Hector dan Alexander. Tantangan ini memerlukan arena dan Alexander sudah mempersiapkan Marco untuk memulainya. Dengan bantuan gurunya, ia direkrut menjadi asisten pribadi pria keturunan India pecinta seni dan pemilik la maison Lefévre, Chandresh Christophe Lefévre. Bersama dengan Mme. Padva; mantan prima ballerina, Mr. Ethan W. Barris sang insinyur, Tara dan Lainie Burgess yang menggeluti dunia tari dan seni peran, mereka menciptakan Le Cirque des Rêves—Sirkus Mimpi. Chandresh beserta Madame Padva merekrut berbagai macam pemain sirkus yang akan mempertontonkan keunikannya dalam tenda yang disediakan khusus untuk mereka, dan Celia merupakan salah satunya. Ia dikenal sebagai The Illusionist, pemain ilusi dalam trik-trik sulap hebat; burung-burung dari kertas, jubah hitam yang sepenuhnya berubah secara ajaib menjadi seekor Raven. Dalam ketidaktahuan akan identitas lawan mainnya, Celia mengikuti alur permainan dengan menciptakan lebih banyak keajaiban di dalam tenda sebagaimana lawannya menciptakan sihir mengagumkan dalam tenda Taman Es.  Mereka terus berusaha saling menjatuhkan dengan memperlihatkan keunggulan wahana dari permainan ilusi masing-masing. Namun, keduanya tidak pernah tahu kapan akan berakhir dan bagaimana pemenang ditentukan. Isobel, pemegang keseimbangan sirkus dan gadis yang tergila-gila pada Marco, melaporkan setiap kejadian di sirkus padanya setiap kali sirkus berpindah tempat. Ia membantu Marco untuk mengendalikan sirkus ketika lelaki tersebut duduk di balik mejanya. Kehidupan sirkus dan segala isinya lambat laun telah menyatu dengan Sang Ilusionis; jam dinding ajaib buatan Herr Thiessen, aroma sari apel dan karamel terlezat, api unggun seputih salju, kelahiran si kembar Murray—Poppet dan Widget, Labirin Awan, botol-botol berisi aroma kenangan, hingga keberadaan para Rêveurs bersyal merah di setiap pertunjukan mereka. Tapi, siapa yang menyangka keberadaan tenda-tenda hitam putih yang semakin bertambah itu malah menumbuhkan kekagumannya pada sang lawan. Ketika tiba akhirnya ia mengetahui identitas Marco, bunga-bunga cinta mulai bertumbuh di antara keduanya, perasaan yang seharusnya tidak boleh ada. Cinta merupakan malapetaka bagi mereka sebab salah satunya akan menderita ketika yang kalah mati dalam kompetisi—kenyataan yang baru diketahui Celia dari Tsukiko si Manusia Plastik. Keinginan mereka berdua untuk bersama tidak pupus begitu saja, walaupun bekas cincin yang menyatukan mereka pada tantangan mengobarkan rasa sakit saat mereka berpikir untuk bersama. Marco yang sudah muak terhadap permainan gurunya ini mulai mengatur cara agar kompetisi berakhir tapa kemenangan maupun kekalahan pada salah satu pihak. Sementara mereka saling bermain menciptakan mimpi, satu per satu kejadian buruk menimpa orang-orang yang terlibat dalam sirkus. Setiap kata yang tertulis di buku ini mampu membawa pembacanya seolah berada pada Sirkus Mimpi dan menikmati pertunjukan serta permainan dalam setiap tenda. Erin mampu menggambarkan karakter-karakter yang kuat dengan alur cerita yang indah. Namun, pembaca harus dengan baik menyimak setiap sub-bagian dalam novel ini. Sebab, Erin dengan gayanya yang unik menulis The Night Circus dengan alur campuran. Kisah-kisah yang disuguhkan tidak semuanya beraturan sehingga Anda sendiri yang harus baik-baik menata kejadian-kejadian tersebut selama Anda membaca. Saya pun masih perlu membolak-balik halaman untuk mengingatkan diri saya tentang cerita pada sub-bagian sebelumnya. Memang memakan waktu, tapi menurut saya worthed. Namun, tidak perlu takut karena jika Anda tidak memperhatikan latar waktunya-pun, kisah dalam novel ini masih enak dibaca. Setiap detail dan pertanyaan yang mengusik kepala Anda saat membaca ini akan terjawab sedikit demi sedikit; mengapa Hector dan lawannya menciptakan tantangan, siapa sebenarnya Tsukiko, kematian Prospero dan siapa tokoh yang diceritakan pada epilog setiap bab. Pembaca juga akan dibawa untuk mengira-ngira apa yang akan terjadi pada kedua lawan ini atau bagaimana kelanjutan Sirkus Mimpi yang selalu dinanti para Rêveurs, yang menurut saya sulit untuk ditebak (suatu kelebihan buku ini juga). Kehadiran Bailey, bocah dari desa yang terkagum-kagum pada Poppet, nanti akan menjadi tokoh penting pada Bagian IV, Pemantik. Salah satu novel nominasi Guardian First Book Award 2011 dan pemenang Alex Award 2012 ini dikabarkan akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Hollywood. Kapan dirilisnya? Mari, kita tunggu saja. Continue reading