Kalah

Aku

Ingin

Menyerah

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku ingin menyerah.

Menyerah dengan semuanya.

Mungkin aku memang dilahirkan untuk menjadi biasa-biasa saja. Bukan untuk menjadi luar biasa. Ah, biarkan saja aku menjadi biasa. Menjadi itu-itu saja.

Kulihat lagi sepasang mata mungil yang kini kuncup. Horor itu datang kembali.

Aku (tak bisa) menyerah.

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku (tak bisa) menyerah.

Anakku membutuhkanku. Aku tamengnya. Aku yang akan menuntunnya. Aku Ibunya, yang harusnya kuat bertahan di tengah badai dan alam yang bergejolak.

Kenapa aku lemah sekali? Pikirku.

Bukankah dulu pun aku pernah menyerah? Apa bedanya dengan yang ini?

Ah, bagaimana ini? Apakah aku harus menyerah? Atau berserah?

Aku berdiri pada kedua pertanyaan itu dan hampir limbung, hampir jatuh ke jurang. Aku tak bisa menalar, pikiranku bukan milikku lagi. Bagaimana ini?

Aku menutup mata karena malam sudah tiba. Delapan jam lagi aku harus bagun, masak yang cukup untuk sarapan, mandi, memandikan anakku, sarapan, bekerja, pulang, bertemu kembali dengan anakku, membersihkan rumah, memasak lagi, mandi, mencuci, memandikan anakku, makan, memberi makan malam anakku, bekerja sampai larut, lalu tidur dan… Esoknya pun tak jauh-jauh dari rutinitas itu. Dengan sisipan masalah-masalah di antaranya. Masalah-masalah yang akan menggugis mentalku.

Tapi… Aku harus tidur. Besok aku harus bangun. Demi anakku. Demi aku. Demi masalah-masalah yang harus diselesaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s