Catatan Kaki Ibun

Ibun bukanlah Wonder Woman. Ibun adalah manusia. Sosoknya bisa saja terlihat perkasa, tapi dia juga bisa putus asa.

Ibun bisa tertawa, terbahak-bahak pada suatu hal yang biasa. Bahkan mungkin tak lucu. Ibun bisa menangis, terserak karena menahan raungan hatinya. Tapi, ia menangis bila asanya tak kuat. Tangisnya mungkin begitu mahal. Maka, tiap tetesnya berarti.

Ibun bukan sosok yang sempurna. Ibun bahkan kadang lupa harus bagun pagi untuk membuat sarapan sebab Ibun terlalu lelah. Atau kadang juga karena terlalu malas.

Ibun juga butuh waktu sendirian karena 365 harinya dibagi untuk mereka yang ia cintai. Kadang ia lupa pada dirinya sendiri, bahwa jam 7 pagi ia harus makan. Kalau tidak, maagnya kambuh. Tapi, ia malah menghabiskan waktunya di jam 7 itu memberi makan anak kesayangannya… suap demi suap. Ibun baru akan sadar ia belum makan jika matanya sudah berkunang dan perutnya sakit.

Begitulah Ibun. Maka tak heran, seorang Ibun bisa begitu egois.

Maafkan Ibun.

Maafkan Ibun.

Maaf.

Kalah

Aku

Ingin

Menyerah

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku ingin menyerah.

Menyerah dengan semuanya.

Mungkin aku memang dilahirkan untuk menjadi biasa-biasa saja. Bukan untuk menjadi luar biasa. Ah, biarkan saja aku menjadi biasa. Menjadi itu-itu saja.

Kulihat lagi sepasang mata mungil yang kini kuncup. Horor itu datang kembali.

Aku (tak bisa) menyerah.

Kata-kata itu menjadi satu dengan denyut nadi dan tetesan air mataku. Aku (tak bisa) menyerah.

Anakku membutuhkanku. Aku tamengnya. Aku yang akan menuntunnya. Aku Ibunya, yang harusnya kuat bertahan di tengah badai dan alam yang bergejolak.

Kenapa aku lemah sekali? Pikirku.

Bukankah dulu pun aku pernah menyerah? Apa bedanya dengan yang ini?

Ah, bagaimana ini? Apakah aku harus menyerah? Atau berserah?

Aku berdiri pada kedua pertanyaan itu dan hampir limbung, hampir jatuh ke jurang. Aku tak bisa menalar, pikiranku bukan milikku lagi. Bagaimana ini?

Aku menutup mata karena malam sudah tiba. Delapan jam lagi aku harus bagun, masak yang cukup untuk sarapan, mandi, memandikan anakku, sarapan, bekerja, pulang, bertemu kembali dengan anakku, membersihkan rumah, memasak lagi, mandi, mencuci, memandikan anakku, makan, memberi makan malam anakku, bekerja sampai larut, lalu tidur dan… Esoknya pun tak jauh-jauh dari rutinitas itu. Dengan sisipan masalah-masalah di antaranya. Masalah-masalah yang akan menggugis mentalku.

Tapi… Aku harus tidur. Besok aku harus bangun. Demi anakku. Demi aku. Demi masalah-masalah yang harus diselesaikan.