Catatan Kaki SMA

Motor Kesayangan

Juli, 2009


Di hamparan parkiran sekolah yang luas—sebenarnya itu lapangan basket dan voli—aku memperhatikan ratusan anak yang datang pagi itu. Terutama kendaraan yang mereka bawa. Hampir semua, jika aku tak salah lihat, motor yang dijejer rapi di sana adalah keluaran motor matic terbaru. Mereka motor ompong, tidak ada giginya. Tapi kinclong di bawah paparan sinar matahari yang hangat.

Mungkin hanya motorku yang masih dengan giginya, keluaran sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Jika ditanya, apakah aku senang dengan motor itu, aku jawab ya (enam atau tujuh tahun lalu). Ketika motor itu masih mulus, mesinnya berbunyi halus dan banyak pengendara yang memilih membawanya kemana-mana. Aku ingat betul saat berhenti di lampu merah, hatiku senang melihat ada “teman” sesama jenis motor itu dengan sama atau beda warna. Pokoknya waktu itu, motor tersebut sangat terkenal. Selain murah, irit bensin juga.

Merk-nya SMACK, warna hitam dengan desain yang simple dan menurutku oke di masanya. Papaku bertugas untuk membawanya, mengatarkan ia dan anak-anaknya pergi ke sekolah, kembali ke rumah, ke rumah Nini atau sekedar belanja ke warung. Itu motor kedua di keluarga kami. Tapi, bukan kami yang beli. Itu punya Om-ku, Mama meminjam darinya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Bukankah Om-ku begitu mulia?

Motor pertama adalah motor kantor Mamaku, tidak ada yang boleh mengganggu gugat penggunaanya. Jadi… aku sekeluarga tidak punya motor resmi atas nama kedua orang tuaku. Keduanya hasil pinjaman.

SMACK adalah motor yang juga aku gunakan untuk belajar berkendara saat di usia 15 tahun. Saat aku sudah mantap naik motor, penggunaanya jatuh ke tanganku. Dengan semua yang tersisa dalam diri SMACK, aku mengendarainya untuk menempuh pendidikan di sebuah SMA Kristen.

Kami (aku dan SMACK) melewati hari-hari penuh kasih, namun terkadang SMACK sangat kelewatan. Bayangkan saja, dia bisa pecah ban sampai dua kali sebulan! Karena faktor dari dalam juga (hampir tidak pernah Mama dan Papaku bilang soal servis-menyervis SMACK), kadang aku terpaksa harus membawanya ke sebuah bengkel yang belum buka sekalipun. Keringat yang mengucur di bawah matahari terik musim kemarau itu membuat baju dan jaketku yang tipis seperti habis dibasahi seember air.

Seorang teman yang melewatiku di kelas mendengus dengan kesal dan dengan ‘polosnya’ bertanya,”Siapa yang bawa telor busuk ke sini?”

Itu aku.

Bukan, maksudku bukan bawa telor busuk. Tapi, (mungkin) aku yang berbau seperti itu karena keringat yang berlebih. Malu? Iya!

Hanya saja aku tidak segera menimpali atau bertanya jika benar itu karena dia mencium bau keringatku kepada teman yang lain. Yang lebih parah lagi, waktu pecah ban di sekolah. Saat hendak pulang aku menyadari bahwa ban belakang SMACK tidak sekencang tadi pagi. Kempes.

Dalam keadaan tidak punya uang dan harus segera pulang untuk ikut les, cara yang terpikir olehku saat itu adalah menuntunnya pulang. Tapi, sama sekali tidak pernah aku pikirkan adalah razia polisi dadakan di dekat—maksudku hanya satu kilometer—rumahku. Ah, aku kan membawa motor kempes, tidak sedang menaikinya. Mana mungkin aku dirazia? Batinku.

Dengan tanpa dosa (baca: bodoh) aku melewati polisi-polisi tersebut yang ternyata mencegatku. Menanyakan SIM dan STNK yang jelas-jelas tidak kupunya. Menelpon Mamaku hanya sia-sia karena pulsa yang tersisa hanya Rp 1. Akhirnya aku hanya bisa pasrah melihat Pak Pol menuliskan surat tilang dan membawa serta motorku dengan ban kempesnya.

Sepanjang perjalanan pulang, hatiku berkecamuk. Aku menangis. Menangisi semuanya. Aku hanya bisa menyodorkan secarik kertas kuning tanda cinta dari Pak  Pol kepada Papa. Endingnya lumayan tragis. Aku tidak akan menceritakannya. Tapi, SMACK kembali ke pelukan kami. Itulah awal mula aku mendapatkan SIM.

Perlu diketahui sebenarnya aku tidak percaya diri ketika harus membawa SMACK ke sekolah karena usianya yang renta. Aku sebagai pemilik kedua juga tidak punya modal untuk merawat motor tersebut. Sayap motor yang retak, bodi motor yang berbunyi saat melewati jalan rusak, jok yang tidak bisa dikunci lagi, aki yang tak tergantikan, pijakan kaki penumpang yang tersisa hanya satu… semua kubiarkan. Bahkan ketika baut di plat motor hilang, aku memasangnya kembali dengan tali rafia hijau.

Apalagi temanku hampir setiap pagi memintaku untuk menjemputnya. Dia hanya bisa memaklumi keadaan SMACK. Sambil juga aku memendam malu karena SMACK tidak seganteng motor temanku yang lain.

Selepas SMA, SMACK digantikan oleh SUPRI, motorku yang baru. Mama membelikannya karena aku lulus perguruan tinggi di luar kota. Sepeninggalku, SMACK kembali ke Papa dan ketika aku kembali, SMACK yang telah begitu sabar terlihat semakin renta. Mesin motornya minta diturunkan, diganti yang baru. Suaranya seperti panci Mama kalau dipukul dengan sodet.

Akhir cerita SMACK tidak diturunkan mesinnya. Dia diparkir di halaman belakang, berdebu dan tidak gagah lagi. Kemudian ada empat motor yang menggantikan tugasnya. Masing-masing untuk tiga adikku dan satu lagi untuk Mama atau Papa. Kadang aku melupakan SMACK dan kewajibanku untuk ‘mengobati’-nya. Dan ketika aku ingat lagi, itu karena aku mengenang perjalanan kami lewat tulisan ini.