Kisah Seekor Katak Kecil

Di sebuah kolam yang besar dan tenang, hiduplah seekor katak bernama Odi. Ketika ia masih berupa kecebong, Ayah dan Ibunya dimangsa binatang lain. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain tidak mampu bertahan hidup saat badai paling ganas menimpa daerah tersebut. Jadilah Odi hidup sebatang kara. Namun karena kolam yang besar itu banyak dihuni kata-katak lain, ia tidak merasa kesepian.
Hanya saja, jauh di dalam hatinya, ia merasa kecil. Itu karena kedua kaki belakang Odi yang lebih pendek daripada katak-katak lain seusianya. Sehingga, ia selalu menjadi yang paling belakang ketika melompat bersama teman-teman yang lain. Odi merasa sangat iri saat banyak katak yang memuji Hugo, si pelompat ulung.
Hugo mampu melompat sangat tinggi, hingga katanya seolah-olah ia mampu mencapai langit. Ia juga mampu sampai ke ujung padang rumput di bibir hutan hanya dalam beberapa lompatan saja. Namun, ia bukanlah katak yang ramah. Hugo terlalu sombong untuk sekedar menyapa Odi.
Dia bahkan mengejek Odi beberapa kali hingga suatu hari Odi berkata,”Hai, Hugo. Kalau memang benar lompatanmulah yang paling hebat, kau harus berani menantangku.”
Hugo yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak,”Siapa kau berani menantangku?”
“Banyak katak yang memuji kehebatan lompatanmu, tapi apakah kau pernah mengujinya dengan katak-katak yang lain?”
Mendengar kenyataan itu, Hugo merasa geram. Ia ingin agar katak kecil itu tahu bahwa kaki-kaki pendek tersebut tidaklah sepadan dengan kemampuan kaki belakangnya yang luar biasa. “Baiklah,” katanya,”besok pagi, kita akan bertemu di ujung padang rumput. Siapa yang tiba lebih dulu sampai ke garis akhir, dialah pemenangnya. Jika kau kalah, aku akan menjadikanmu pesuruh. Begitu pula sebaliknya.”
Odi merasa sangat gugup. Sepanjang malam, ia memikirkan berbagai cara agar bisa mengalahkan Hugo. Tidak terasa, matahari hari itu terbit lebih cepat. Katak-katak lain sudah bangun dan menanti mereka berdua di pinggir padang rumput. Tidak ada yang mau melewati kompetisi ini. Banyak yang bersorak untuk kemenangan Hugo. Hanya beberapa teman dekat Odi yang menyemangatinya. Odi memandang teman-temannya dengan tatapan ragu-ragu.
“Siap!” teriak Ketua Suku Katak,”mulai!”
Hugo yang berada di samping Odi kini hanya bayangan di bawah sinar matahari, jauh di atas kepala Odi. Maka, ia segera memulai lompatannya. Satu, dua, tiga… empat! Saat hitungan ke dua puluh, Hugo masih jauh beberapa puluh meter di depannya. Di tengah padang rumput, Odi berpikir untuk berhenti. “Mengapa aku harus menantang Hugo?” begitu pikirnya. “Mengapa aku harus membuat masalah kepada diriku sendiri?” tambahnya lagi.
Namun, Odi juga tidak mau Hugo kembali menyombongkan kemampuannya tersebut. Sulit baginya untuk membayangkan menjadi bahan ejekan katak berbadan besar itu saat tiba di garis akhir nanti. Maka, dia terus melompat. Hap! Hap! Hap! Matahari semakin panas hingga membuat Hugo dan Odi kehausan. Hugo berhenti sejenak di tengah padang, namun menyesalinya kemudian karena ternyata rasa haus tidak menghentikan Odi untuk terus melompat dan melompat!
Beberapa meter dari garis akhir, mata Odi berkunang-kunang. Ia berhenti sejenak untuk melihat Hugo dengan lihainya melompat setinggi langit. Mata Odi memicing ketika memandangi lawannya yang melompat seakan hendak menggenggam matahari tersebut. Ia dapat mendengar tawa Hugo, yakin bahwa dirinya-lah sang pemenang. Namun, saking tingginya ia melompat, ia tidak melihat ada sebuah lubang tepat di tempatnya mendarat dan… tawanya berubah menjadi teriakan yang menggaung hingga ke dasar lubang. Kemudian, tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan sang calon jawara.
Katak-katak yang menonton, termasuk Odi, mendekati lubang yang gelap tersebut. “Hugo telah hilang ke dasar bumi!” seru salah satu katak.
“Malangnya nasib Hugo.”
Padahal aku telah yakin bahwa ia yang akan menang.”
“Mungkin ia sudah dimangsa oleh ular yang menempati lubang ini!”
Begitulah kata-kata yang diucapkan katak-katak lain. Baginya, sangat mengejutkan melihat lawan mainnya melompat dan mendarat entah dimana. Penonton kompetisi tersebut memandangi Odi. Mereka tidak bertepuk tangan dan menyudahi kompetisi dengan pulang kembali ke kolam sebelum senja.
Odi memandangi lubang tersebut. Bahkan katak-katak yang dulu memuji Hugo tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Ada rasa kasihan yang terbesit di hati katak berkaki pendek itu. “Seharusnya aku tidak memulai kompetisi ini,” sesalnya dalam hati. Ia berbalik ke kolam sesaat setelah do’a ia berikan untuk katak yang selalu mengejeknya tersebut. Sejak itu, tidak ada lagi yang berbicara tentang kompetisi. Bahkan tidak ada yang merasa kehilangan dengan ketiadaan Hugo di antara mereka. Semua kembali hidup seperti biasa. Termasuk Odi yang berjanji pada dirinya sendiri untuk hidup dengan apa yang dia miliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s