The Night Circus:Menjelajahi Mimpi dalam Permainan Ilusi

Kisah yang ditulis oleh Erin Morgenstern ini  bermula dari Prospero sang Pesulap yang mendapat surat dari seorang wanita, dikirim beserta seorang gadis kecil. Celia Bowen, gadis berambut ikal dan bermata hitam itu merupakan anak kandungnya. Ia mewarisi keahlian sang Ayah sebagai pemain ilusi. Namun, ia tidak menyangka bahwa Hector Bowen—nama asli Prospero, membuatnya tidak memiliki pilihan selain mengikuti sebuah tantangan dengan saingan Ayahnya, Alexander. Gadis itu masih ingat cincin yang disematkan Alexander ke jari manisnya, meninggalkan bekas dan rasa tidak suka pada pria misterius tersebut. Pada bagian satu, diceritakan pula seorang anak yatim piatu, kelak menamai dirinya Marco Alisdair, yang diangkat menjadi murid oleh Alexander. Ialah anak biasa yang akan menjadi lawan Celia. Kecerdasan dan ketekunannya membuat Marco menguasai trik-trik sulap beraroma sihir dengan waktu singkat. Namun, baik Marco maupun Celia sama-sama kehilangan masa-masa kecilnya. Hidup mereka penuh dengan latihan dan rutinitas yang menjemukan. Keduanya sampai di suatu titik dimana mereka sangat membenci guru masing-masing, Hector dan Alexander. Tantangan ini memerlukan arena dan Alexander sudah mempersiapkan Marco untuk memulainya. Dengan bantuan gurunya, ia direkrut menjadi asisten pribadi pria keturunan India pecinta seni dan pemilik la maison Lefévre, Chandresh Christophe Lefévre. Bersama dengan Mme. Padva; mantan prima ballerina, Mr. Ethan W. Barris sang insinyur, Tara dan Lainie Burgess yang menggeluti dunia tari dan seni peran, mereka menciptakan Le Cirque des Rêves—Sirkus Mimpi. Chandresh beserta Madame Padva merekrut berbagai macam pemain sirkus yang akan mempertontonkan keunikannya dalam tenda yang disediakan khusus untuk mereka, dan Celia merupakan salah satunya. Ia dikenal sebagai The Illusionist, pemain ilusi dalam trik-trik sulap hebat; burung-burung dari kertas, jubah hitam yang sepenuhnya berubah secara ajaib menjadi seekor Raven. Dalam ketidaktahuan akan identitas lawan mainnya, Celia mengikuti alur permainan dengan menciptakan lebih banyak keajaiban di dalam tenda sebagaimana lawannya menciptakan sihir mengagumkan dalam tenda Taman Es.  Mereka terus berusaha saling menjatuhkan dengan memperlihatkan keunggulan wahana dari permainan ilusi masing-masing. Namun, keduanya tidak pernah tahu kapan akan berakhir dan bagaimana pemenang ditentukan. Isobel, pemegang keseimbangan sirkus dan gadis yang tergila-gila pada Marco, melaporkan setiap kejadian di sirkus padanya setiap kali sirkus berpindah tempat. Ia membantu Marco untuk mengendalikan sirkus ketika lelaki tersebut duduk di balik mejanya. Kehidupan sirkus dan segala isinya lambat laun telah menyatu dengan Sang Ilusionis; jam dinding ajaib buatan Herr Thiessen, aroma sari apel dan karamel terlezat, api unggun seputih salju, kelahiran si kembar Murray—Poppet dan Widget, Labirin Awan, botol-botol berisi aroma kenangan, hingga keberadaan para Rêveurs bersyal merah di setiap pertunjukan mereka. Tapi, siapa yang menyangka keberadaan tenda-tenda hitam putih yang semakin bertambah itu malah menumbuhkan kekagumannya pada sang lawan. Ketika tiba akhirnya ia mengetahui identitas Marco, bunga-bunga cinta mulai bertumbuh di antara keduanya, perasaan yang seharusnya tidak boleh ada. Cinta merupakan malapetaka bagi mereka sebab salah satunya akan menderita ketika yang kalah mati dalam kompetisi—kenyataan yang baru diketahui Celia dari Tsukiko si Manusia Plastik. Keinginan mereka berdua untuk bersama tidak pupus begitu saja, walaupun bekas cincin yang menyatukan mereka pada tantangan mengobarkan rasa sakit saat mereka berpikir untuk bersama. Marco yang sudah muak terhadap permainan gurunya ini mulai mengatur cara agar kompetisi berakhir tapa kemenangan maupun kekalahan pada salah satu pihak. Sementara mereka saling bermain menciptakan mimpi, satu per satu kejadian buruk menimpa orang-orang yang terlibat dalam sirkus. Setiap kata yang tertulis di buku ini mampu membawa pembacanya seolah berada pada Sirkus Mimpi dan menikmati pertunjukan serta permainan dalam setiap tenda. Erin mampu menggambarkan karakter-karakter yang kuat dengan alur cerita yang indah. Namun, pembaca harus dengan baik menyimak setiap sub-bagian dalam novel ini. Sebab, Erin dengan gayanya yang unik menulis The Night Circus dengan alur campuran. Kisah-kisah yang disuguhkan tidak semuanya beraturan sehingga Anda sendiri yang harus baik-baik menata kejadian-kejadian tersebut selama Anda membaca. Saya pun masih perlu membolak-balik halaman untuk mengingatkan diri saya tentang cerita pada sub-bagian sebelumnya. Memang memakan waktu, tapi menurut saya worthed. Namun, tidak perlu takut karena jika Anda tidak memperhatikan latar waktunya-pun, kisah dalam novel ini masih enak dibaca. Setiap detail dan pertanyaan yang mengusik kepala Anda saat membaca ini akan terjawab sedikit demi sedikit; mengapa Hector dan lawannya menciptakan tantangan, siapa sebenarnya Tsukiko, kematian Prospero dan siapa tokoh yang diceritakan pada epilog setiap bab. Pembaca juga akan dibawa untuk mengira-ngira apa yang akan terjadi pada kedua lawan ini atau bagaimana kelanjutan Sirkus Mimpi yang selalu dinanti para Rêveurs, yang menurut saya sulit untuk ditebak (suatu kelebihan buku ini juga). Kehadiran Bailey, bocah dari desa yang terkagum-kagum pada Poppet, nanti akan menjadi tokoh penting pada Bagian IV, Pemantik. Salah satu novel nominasi Guardian First Book Award 2011 dan pemenang Alex Award 2012 ini dikabarkan akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Hollywood. Kapan dirilisnya? Mari, kita tunggu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s