Buah-buah Untuk Pak Monyet

Hutan di balik bukit sedang ramai. Ya, hari ini adalah musim buah-buahan. Apapun jenis buah yang ditanam seluruh hewan di hutan akan berbuah. Ada rambutan, durian, mangga, duku, salak, jeruk, apel, anggur, semangka, melon, dan banyak lagi! Tidak ada hewan yang bermalas-malasan di dalam rumah pohon atau sarangnya. Burung, jerapah, rusa, kambing, kura-kura, landak, bahkan gajah ikut dengan tulus membantu membawakan berbagai macam buah ke sarang hewan-hewan pemakan tumbuhan lain.
Pak Monyet pun bangun pagi dan memetik buah di dekat pohonnya. Tapi, badannya yang sudah tua tidak memungkinkan dia untuk memanjat pohon-pohon lain. Sebelum matahari berada di atas kepala, Pak Monyet berhenti memetik buah dan duduk di atas pohonnya. Hanya satu keranjang pisang yang ia dapat hari itu. Namun, Pak Monyet bersyukur karena masih bisa makan buah hasil panen.
“Hai, Pak Monyet!” sapa burung merpati,”mengapa Anda duduk saja di atas pohon?”
“Ah, aku begitu lelah hari ini setelah panen,” jawab Pak Monyet.
Burung merpati bertanya lagi,”Mengapa Anda tidak meminta tolong hewan-hewan lain?”
“Tidak perlu. Mereka sudah cukup membantuku saat panen tahun lalu. Sekarang, biarkanlah aku sendiri yang memetik buah-buahan itu,” katanya.
“Tapi, apakah sekeranjang pisang cukup untuk makan Anda?”
“Tentu tidak,” jawab Pak Monyet dengan senyuman yang hangat. “Aku akan memetik lagi besok.”
Burung merpati yang penuh belas kasih itu berpikir untuk membantu Pak Monyet. Maka, dengan segera dia memanggil beberapa tema-teman hewan yang lain. Kuskus Tikus Tanah, Bibi Babi, dan Jeje Jerapah yang saat itu sedang duduk di bawah pohon dengan senang hati membantu Merpati untuk menolong Pak Monyet.
“Aku akan membawakan kacang tanah untuk Pak Monyet!” seru Kuskus Tikus Tanah.
“Mamaku memanen banyak apel hari ini. Aku bisa memberikan sekeranjang untuknya,” kata Bibi Babi. Dia sangat gembira.
Jeje Jerapah berpikir dan berseru girang,”Semangka-semangka dan jerami untuk membuat atap di pohon Pak Monyet pasti akan membuatnya senang.”Merpati terharu dengan kebaikan teman-temannya itu. “Terima kasih, teman-teman. Aku juga akan membawakan jagung-jagung manis untuknya.”
“Apakah kamu sudah memberitahu Pak Monyet kalau kita akan membantunya?” tanya Bibi Babi.
“Aku belum memberitahu Pak Monyet,” kata Merpati.
“Wah, ini pasti akan menjadi kejutan yang menyenangkan!” seru Jeje Jerapah bahagia.
Maka, mereka berempat kembali ke sarang mereka masing-masing. Mereka memberitahu orangtua mereka yang masih memanen buah tentang rencana untuk membantu Pak Monyet. Ternyata, orang tua mereka setuju dengan rencana tersebut. Dengan dibekali buah-buahan hasil panen, mereka berkumpul kembali dan berangkat bersama-sama ke pohon Pak Monyet.
Tempat tinggal Pak Monyet memang agak jauh, di dekat sungai besar. Di tengah-tengah perjalanan, Bibi Babi mulai kelelahan. “Aduh, aku capek!” keluh Bibi Babi.
Ayo, kita hampir sampai!” kata Merpati menyemangati.
Ternyata, Kuskus Tikus Tanah dan Jeje Jerapah merasakan hal yang sama. “Bisakah kita menepi sebentar?” tanya Kuskus Tikus Tanah.
“Jika kita menepi, kita akan terlambat sampai ke pohon Pak Monyet dan kembali ke rumah kita ketika matahari terbenam,” kata Merpati.
“Huh, kamu enak bisa terbang. Kamu tidak merasakan kelelahan seperti kami,” ujar Bibi Babi agak kesal. Tanpa pikir panjang, dia terus berjalan sambil mengambil sebuah apel untuk dimakannya. Jeje Jerapah juga memakan sebuah semangka yang dibawanya untuk mereda kehausan.
Tak ketinggalan Kuskus Tikus Tanah ikut-ikutan membuka keranjang berisi kacang tanah yang dipanen pagi itu. Kacang-kacang yang masih segar itu segera masuk ke perutnya hingga membuat Kuskus semakin gendut. Setelah makan, mereka malah semakin malas dan mengantuk. Langkah mereka semakin lama semakin berat.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar gemerisik pohon-pohon dan suara itu berhenti tepat di dekat mereka. Ternyata itu Pak Monyet yang sedang berjalan-jalan. “Mengapa kalian ada di sini? Hari sudah sore, sebaiknya kalian pulang.”
“Sebenarnya kami ingin sekali memberikan kejutan untukmu,” kata Merpati sambil memperlihatkan keranjang-keranjang buah yang mereka bawa. Jeje Jerapah meyodorkan keranjang berisi semangka dan jerami hangat untuk Pak Monyet. Namun, ia tidak menyadari bahwa semangka yang diletakkan di atas jerami hanya tersisa satu buah dari lima buah yang sebelumnya ia bawa.
Kuskus Tikus Tanah harus menahan malu karena keranjangnya penuh dengan kulit kacang. Kini ia bahkan tidak bisa menghitung berapa biji yang masih utuh untuk diberikan kepada Pak Monyet. Bibi Babi menoleh untuk melihat keranjang buah berwana pink yang kini kosong! Apel-apel itu sudah dimakannya dengan lahap sampai ia lupa diri. Hanya jagung manis milik Merpati saja yang masih utuh.
Kuskus Tikus Tanah berkata,”Dalam perjalanan, kami memakan beberapa buah. Tapi kami tidak menyangka kami memakan hampir semua buah yang akan kami berikan.”
“Aku bahkan sudah memakan semuanya!” kata Bibi dengan wajah muram.. Tak disangka, Pak Moyet malah tertawa melihat Kuskus, Jeje dan Bibi.
“Mengapa Anda tertawa, Pak Monyet?” tanya Merpati.
“Hahaha… kalian sebenarnya tidak perlu repot-repot. Tapi, aku tetap berterima kasih atas kejutan kalian.
Pak Monyet membawa keranjang-keranjang tersebut dan mengajak mereka mengunjungi rumah pohonnya. Saat itu, matahari sudah terbenam dan Pak Monyet menyarankan agar mereka pulang esok hari saja. Merpati ditugaskan untuk membawa berita tersebut supaya orang tua mereka tidak khawatir. “Aku akan kembali ke rumah lebih dulu. Tapi, esok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi menjemput kalian,” janji Merpati. Ia tersenyum penuh arti.
Jeje Jerapah yang mendapat bagian tidur dekat dengan jendela bertanya,”Pak Monyet, apakah kami boleh membantu untuk memetik buah-buahan segar di luar sana? Sepertinya masih banyak buah selain pisang yang bias kau makan.”
Pak Monyet mengangguk dan seketika anak-anak tersebut bersorak gembira. Esok hari, mereka bahkan bangun sebelum ayam hutan berkokok. Dengan sigap, mereka saling membantu untuk memetik pisang dan beberapa buah apel lezat. Bibi Babi berusaha untuk tidak memakan sebuah pun dan ia berhasil! Isi keranjang itu penuh dan wajah Pak Monyet yang keriput itu berbinar. Ia yang baru saja bangun merasa sangat bahagia hari itu. Anak-anak tersebut menebus kesalahannya kemarin dan Pak Monyet bangga mereka mampu memetik buah-buah itu sendiri.
Tiba-tiba, suara bedebum dan gaduh terdengar dari dalam hutan. Merpati pagi itu terbang di atas rumah pohon Pak Monyet dna bercuit-cuit senang. Oh, ternyata ia mendatangkan Boni Gajah dan anaknya, Omi Orang Utan, Riri Rusa dan orang tua Kuskus, Jeje, Bibi serta Ibu Merpati. “Kejutan!” seru Merpati riang gembira. Ia masih ingin memberikan kejutan yang menyenangkan bagi Pak Monyet.
“Wah, menyenangkan sekali kalian datang ke rumahku sepagi ini,” kata Pak Monyet, senyum tersungging di bibirnya. Kuskus, Jeje dan Bibi menghampiri orang tua mereka dengan wajah berbinar. Ibu Merpati dan Riri Rusa membawakan beberapa keranjang berisi buah mangga, kacang, jeruk dan leci segar. “Ini buah-buahan untukmu, Pak Monyet. Kami mendengar anak-anak memakan buah-buah yang dikirim kemarin. Untuk membalasnya, kami berniat memberikan lebih banyak lagi.
Pak Monyet sangat terharu. Anak-anak hewan itu memeluk Pak Monyet yang tua dengan hangat. Hari ini akan ada lebih banyak buah yang bisa dinikmati oleh Pak Monyet, batin mereka. “Tenang saja, Ibu. Aku dan teman-teman sudah memetik beberapa buah pagi ini untuk Pak Monyet,” tunjuk Kuskus Tikus Tanah ke arah keranjang penuh pisang dan apel. Para orang tua tertawa gembira dan memeluk mereka dengan bangga!
Boni Gajah dan anaknya memperlihatkan seruling bambu dan sebuah drum dari batok kelapa,”Nah, bagaimana kalau kita mengadakan pesta buah-buahan untuk Pak Monyet? Aku dan anakku akan menyumbangkan musik untuk kalian semua!” Seluruh hewan yang datang setuju dengan bersorak-sorai. Pagi itu mereka menikmati buah-buahan segar sambil berdansa diiringi musik yang indah.

The Night Circus:Menjelajahi Mimpi dalam Permainan Ilusi

Kisah yang ditulis oleh Erin Morgenstern ini  bermula dari Prospero sang Pesulap yang mendapat surat dari seorang wanita, dikirim beserta seorang gadis kecil. Celia Bowen, gadis berambut ikal dan bermata hitam itu merupakan anak kandungnya. Ia mewarisi keahlian sang Ayah sebagai pemain ilusi. Namun, ia tidak menyangka bahwa Hector Bowen—nama asli Prospero, membuatnya tidak memiliki pilihan selain mengikuti sebuah tantangan dengan saingan Ayahnya, Alexander. Gadis itu masih ingat cincin yang disematkan Alexander ke jari manisnya, meninggalkan bekas dan rasa tidak suka pada pria misterius tersebut. Pada bagian satu, diceritakan pula seorang anak yatim piatu, kelak menamai dirinya Marco Alisdair, yang diangkat menjadi murid oleh Alexander. Ialah anak biasa yang akan menjadi lawan Celia. Kecerdasan dan ketekunannya membuat Marco menguasai trik-trik sulap beraroma sihir dengan waktu singkat. Namun, baik Marco maupun Celia sama-sama kehilangan masa-masa kecilnya. Hidup mereka penuh dengan latihan dan rutinitas yang menjemukan. Keduanya sampai di suatu titik dimana mereka sangat membenci guru masing-masing, Hector dan Alexander. Tantangan ini memerlukan arena dan Alexander sudah mempersiapkan Marco untuk memulainya. Dengan bantuan gurunya, ia direkrut menjadi asisten pribadi pria keturunan India pecinta seni dan pemilik la maison Lefévre, Chandresh Christophe Lefévre. Bersama dengan Mme. Padva; mantan prima ballerina, Mr. Ethan W. Barris sang insinyur, Tara dan Lainie Burgess yang menggeluti dunia tari dan seni peran, mereka menciptakan Le Cirque des Rêves—Sirkus Mimpi. Chandresh beserta Madame Padva merekrut berbagai macam pemain sirkus yang akan mempertontonkan keunikannya dalam tenda yang disediakan khusus untuk mereka, dan Celia merupakan salah satunya. Ia dikenal sebagai The Illusionist, pemain ilusi dalam trik-trik sulap hebat; burung-burung dari kertas, jubah hitam yang sepenuhnya berubah secara ajaib menjadi seekor Raven. Dalam ketidaktahuan akan identitas lawan mainnya, Celia mengikuti alur permainan dengan menciptakan lebih banyak keajaiban di dalam tenda sebagaimana lawannya menciptakan sihir mengagumkan dalam tenda Taman Es.  Mereka terus berusaha saling menjatuhkan dengan memperlihatkan keunggulan wahana dari permainan ilusi masing-masing. Namun, keduanya tidak pernah tahu kapan akan berakhir dan bagaimana pemenang ditentukan. Isobel, pemegang keseimbangan sirkus dan gadis yang tergila-gila pada Marco, melaporkan setiap kejadian di sirkus padanya setiap kali sirkus berpindah tempat. Ia membantu Marco untuk mengendalikan sirkus ketika lelaki tersebut duduk di balik mejanya. Kehidupan sirkus dan segala isinya lambat laun telah menyatu dengan Sang Ilusionis; jam dinding ajaib buatan Herr Thiessen, aroma sari apel dan karamel terlezat, api unggun seputih salju, kelahiran si kembar Murray—Poppet dan Widget, Labirin Awan, botol-botol berisi aroma kenangan, hingga keberadaan para Rêveurs bersyal merah di setiap pertunjukan mereka. Tapi, siapa yang menyangka keberadaan tenda-tenda hitam putih yang semakin bertambah itu malah menumbuhkan kekagumannya pada sang lawan. Ketika tiba akhirnya ia mengetahui identitas Marco, bunga-bunga cinta mulai bertumbuh di antara keduanya, perasaan yang seharusnya tidak boleh ada. Cinta merupakan malapetaka bagi mereka sebab salah satunya akan menderita ketika yang kalah mati dalam kompetisi—kenyataan yang baru diketahui Celia dari Tsukiko si Manusia Plastik. Keinginan mereka berdua untuk bersama tidak pupus begitu saja, walaupun bekas cincin yang menyatukan mereka pada tantangan mengobarkan rasa sakit saat mereka berpikir untuk bersama. Marco yang sudah muak terhadap permainan gurunya ini mulai mengatur cara agar kompetisi berakhir tapa kemenangan maupun kekalahan pada salah satu pihak. Sementara mereka saling bermain menciptakan mimpi, satu per satu kejadian buruk menimpa orang-orang yang terlibat dalam sirkus. Setiap kata yang tertulis di buku ini mampu membawa pembacanya seolah berada pada Sirkus Mimpi dan menikmati pertunjukan serta permainan dalam setiap tenda. Erin mampu menggambarkan karakter-karakter yang kuat dengan alur cerita yang indah. Namun, pembaca harus dengan baik menyimak setiap sub-bagian dalam novel ini. Sebab, Erin dengan gayanya yang unik menulis The Night Circus dengan alur campuran. Kisah-kisah yang disuguhkan tidak semuanya beraturan sehingga Anda sendiri yang harus baik-baik menata kejadian-kejadian tersebut selama Anda membaca. Saya pun masih perlu membolak-balik halaman untuk mengingatkan diri saya tentang cerita pada sub-bagian sebelumnya. Memang memakan waktu, tapi menurut saya worthed. Namun, tidak perlu takut karena jika Anda tidak memperhatikan latar waktunya-pun, kisah dalam novel ini masih enak dibaca. Setiap detail dan pertanyaan yang mengusik kepala Anda saat membaca ini akan terjawab sedikit demi sedikit; mengapa Hector dan lawannya menciptakan tantangan, siapa sebenarnya Tsukiko, kematian Prospero dan siapa tokoh yang diceritakan pada epilog setiap bab. Pembaca juga akan dibawa untuk mengira-ngira apa yang akan terjadi pada kedua lawan ini atau bagaimana kelanjutan Sirkus Mimpi yang selalu dinanti para Rêveurs, yang menurut saya sulit untuk ditebak (suatu kelebihan buku ini juga). Kehadiran Bailey, bocah dari desa yang terkagum-kagum pada Poppet, nanti akan menjadi tokoh penting pada Bagian IV, Pemantik. Salah satu novel nominasi Guardian First Book Award 2011 dan pemenang Alex Award 2012 ini dikabarkan akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Hollywood. Kapan dirilisnya? Mari, kita tunggu saja. Continue reading

Jenis- Jenis Dosen Pembimbing Skripsi

Singkat saja, catatan ini saya buat bedasarkan observasi saya selama saya masih berstatus mahasiswi semester 8. Apa yang saya tulis murni pengalaman yang entah saya atau teman saya atau leluhur a.k.a senior saya terdahulu saat menjalani skripsian dan didukung oleh apa yang teman saya dari luar jurusan atau universitas lain. Jadi, tulisan ini juga merupakan ulasan singkat pengalaman dari berbagai penjuru yang masih bisa saya jangkau waktu itu.
Kebanyakan apa yang kami alami 11-12 dengan apa yang kakak senior perbincangkan mengenai dosen pembimbing mereka terdahulu. Beberapa hanya rumor yang menakuti, tapi sebagian besarnya memang benar. Agak sulit memang untuk ‘merapikan’ beberapa cerita tentang dosen pembimbing ini karena begitu banyak karakter manusia. Apalagi cerita tersebut memang benar-benar subyektif. Walaupun kepala saya agak pening karena terus berpikir dan memakai kacamata (ah, memakai kacamata itu melelahkan *lepas kacamata*), dengan kesungguhan hati, saya mengkategorikan jenis-jenis dosen tersebut supaya tidak membingungkan. Kategori-kategori yang saya buat antara lain: 1) kategori sifat dasar dosen, 2) kategori cara penilaian dosen, dan 3) kategori hubungan antar dosen pembimbing. Tulisan saya ini bukan untuk menjelek-jelekkan, menjerumuskan atau menakuti siapapun. Saya hanya ingin sharing apa yang telah saya dan teman-teman saya alami sebelumnya. Mungkin itu juga terjadi pada siapapun.
Nah, tanpa panjang lebar lagi, berikut adalah jenis dosen pemimbing menurut kategori sifat daasr dosen. Banyak yang mengeluh mengenai dosen yang membimbing mereka ketika skripsian. Padahal dosen juga manusia yang sifatnya beragam seperti mahasiswanya. Maka dari itu, kategori ini pun paling banyak jenisnya, antara lain:
1. Dosen yang Pengertian
Saya letakkan ini di nomor satu karena setiap mahasiswa/I baik yang bulukan, cantik, wangi, menor, ganteng, super atau yang bau keringat setiap hari-pun pasti menginginkannya. Yap, dosen semacam ini (menurut ucapan kahayalak mahasiswa) membuat skripsi macam apapun bisa maju sidang. Mereka sangatlah pengertian—tahu bahwa mahasiswanya butuh bantuan dalam skripsinya dan ingin segera lepas meninggalkan kampus. Biarpun judul proposalnya bisa dibilang hancur, tidak masuk akal atau tidak jelas arahnya akan kemana, mereka akan memberi nasihat yang terbaik, bahkan membantu kita dengan memberitahukan referensi yang tepat bagi penelitian kita. Mereka akan senang jika mahasiswanya mau berusaha, bukan copy paste dari milik peneliti sebelumnya yang juga mengambil jenis studi yang sama. Kawan-kawan harus berhati-hati juga pada jenis dosen yang satu ini karena banyak ternyata mahasiswa yang menyalahgunakan kebaikan mereka.
Seperti contoh seorang mahasiswa meminta kakak atau pacar atau siapapun untuk membuat skripsinya dan ingin segera maju sidang. Nah, dosen jenis ini (biasanya) mengiyakan keinginan mahasiswanya sebab, mereka memahami akan keadaan mahasiswanya yang (kebanyakan) sudah malas berkutat dengan buku dan tugas. Apalagi yang belajar hingga 4-6 tahun lamanya. Bau bangkai pasti akan tercium juga. Jika terciumnya sebelum ujian skripsi, okelah. Setidaknya diomeli hanya di depan muka kita saja. Namun, kalau itu terjadi ketika sidang… berabe! Dosen sebaik apapun pasti akan sangat kecewa. Kejadian inilah yang membuat dosen-dosen pengertian jarang bisa kita temukan lagi. Saya yakin, dosen-dosen yang paling dihindari dulunya adalah dosen-dosen yang pengertian. Tapi, saking banyaknya mahasiswa yang mulai bertingkah ini membuat mereka lebih ‘disiplin’ sehingga tidak bisa menerima excuse berlebihan dari mahasiwanya.

2. Dosen yang Tidak Tepat Waktu
Membuat janji dengan dosen itu merupakan hal wajib bagi mahasiwa semester 8 atau lebih. Sebab, dosen tersebut hanya ada satu, tapi puluhan mahasiswa membutuhkan waktu beliau dan ditambah lagi urusan luar lainnya seperti seminar, rapat, makan siang atau ke kondangan. Jika dosen mengatakan bisa bertemu pada jam sekian di tempat ini, pasti mahasiswa tersebut akan tiba jauh sebelum waktu perjanjian karena takut terjadi sesuatu dan lain hal. Tapi, kemalangan masih saja terjadi pada mahasiswa/I rajin seperti teman-teman saya dulu yang menunggu dari sejam sebelum waktu bertemu hingga lewat dua jam berikutnya. Ruangan beliau kosong dan jika dihubungi, tidak ada balasan. Baru beberapa jam, hingga jauh setelahnya, barulah batang hidung dosen tersebut muncul. Mahasiwa tidak bisa berkata apa karena mereka yang membutuhkan si dosen, bukan sebaliknya. Dosen juga bukan pacar mereka yang ketika telat dating bisa langsung disemprot begitu saja. Hal yang paling mengesalkan adalah saat teman saya sudah menunggu begitu lama tapi ternyata beliau tidak datang dan entah kapan lagi bisa bertemu!

3. Dosen Siput
Sedikit sekali ulasan saya mengenai dosen siput di dunia liliput ini. Yap, dosen semacam ini selain gaya bicaranya lamban, kerjanya pun juga. Jadwal kita yang sudah disusun dari pengumpulan skripsi hingga kapan wisuda bisa-bisa berantakan karena dosen satu ini. Proposal dari mahasiswa skripsiannya bisa-bisa sebulan dibacanya. Saking pelannya, kadang mahasiswa berpura-pura dengan memberitahu pendaftaran untuk ikut ujian proposal gelombang terakhir bulan ini akan segera tenggat sehingga dosennya harus cepat-cepat merevisi. Haduh! Dosen lambat sih memang bikin pusing, tapi….

4. Dosen WAW
WAW yang dimaksud adalah gaya berbusana beliau. Dari akar rambut hingga ujung jempol kaki necisnya minta ampun. Make-up setebal buku jenis-jenis penelitian oleh Borg and Gall menempel di kulit wajahnya. Tidak jarang ada dosen wanita bergaya mentereng hingga waktunya sibuk untuk mengurusi penampilannya ke kampus dan bukan mahasiswanya. Jika bertemu, paling-paling hanya menanyakan perkembangan secara garis besar, terlihat bahwa ingin perhatian pada mahasiswanya padahal ujung-ujungnya bilang,”Ya, saya mengikuti apa kata pembimbing pertama saja.” Haduuuh!

5. Dosenku Entah Kemana
Sangat bangga rasanya menjadi mahasiswa/I bimbingan seorang dosen yang merupakan guru besar dengan jam terbang yang tinggi melayang. Sampai-sampai mahasiswanya sampai pening melihatnya ‘terbang’ kemana-mana. Sekali bertemu, cuma bisa membahas beberapa hal. Besoknya setelah skripsi direvisi, beliau sudah tidak ada lagi di kantornya. Kata Humas, sang dosen pergi ke Malaysia untuk mengisi seminar Internasional. Padahal, (pernah sekali) teman saya hanya ingin minta tanda tangan untuk bisa maju ujian proposal sementara pembimbing kesayangannya sedang di Bangkok. Untung kami bisa menghentikannya untuk membeli tiket pulang-pergi negeri gajah putih itu demi sebuah goresan pena!
Jika kawan-kawan memiliki pembimbing jenis ini, baiknya mengikuti apa yang teman saya lakukan. Kebetulan (dan untungnya pula!) dosennya memiliki jadwal tetap. Sekian hari di sini, sekian hari di sana, jadi ia sudah punya jadwal kapan bisa bertemu beliau. Yang tidak, menurut hemat saya, mending sering-sering berdo’a memohon ampun atas segala dosa. Ya, siapa tahu kawan-kawan bisa jauh lebih ikhlas menjalani penghujung semester. Tidak ada yang tidak mungkin kok. Lha, dosen saya yang dulu pernah dibimbing oleh seorang Prof. seperti ini, beliau cuma butuh waktu 2 TAHUN untuk menyelesaikan skripsinya dan wisuda dengan selamat serta bahagia.

6. Dosen Amnesia
Ini yang paling menyebalkan dan untungnya saya tidak pernah mendapatkan atau berurusan dengan dosen semacam ini, walaupun ada dan masih hidup. Berhati-hatilah! Hasil penilaian ujian proposal teman saya pernah dihilangkan oleh pembimbing tercintanya yang menyebabkan nilainya keluar belakangan sehingga jadwalnya merevisi proposal jadi matot—macet total! Ada pula yang bahkan LUPA dimana meletakkan skripsi yang sudah diketik rapi hingga bagian lampiran-lampirannya. Kedua belah pihak tidak tahu menahu keberadaan si skripsi yang kata Bapak/Ibu dosen sudah dibawa pulang dan direvisi sebelum masuk ujian. Dimakan jin mungkin?

7. Dosen I-Trust-You
Pembimbing semacam ini menaruh kepercayaan besar di pundak mahasiswanya. Saya pun jika dapat pembimbing semacam ini bingung: antara merasa bangga atau takut. Ya, bangga karena dosen PERCAYA pada hasil kerja mahasiswnya tanpa perlu banyak membimbing dan menilai isi skripsi kita. Bagian yang menakutkan adalah, apabila isi skripsi yang kita dan pembimbing sudah anggap benar berkebalikan dengan ‘kebenaran’ yang penguji yakini saat sidang. Nahlo! Teman saya pernah mendengar bahwa banyak dosen yang mengatakan bahwa skripsi yang lahir dari tangan pembimbing semacam ini biasanya GAK NYAMBUNG dan GAK COCOK antara elemen satu dengan yang lain. Seperti mengiris daging ayam dengan gunting. Atau menebang pohon dengan pisau dapur. Bisa sih, tapi… Parahnya lagi, penguji tak jarang meminta mahasiswa tersebut untuk MEROMBAK sebagian besar isi skripsinya. Horrible!

8. Dosen Pasal 1
Yang pernah memasuki masa-masa masuk SMP atau SMA pasti tahu pasal 1. Yap, dosen selalu benar dan jika beliau salah, balik ke pasal satu. Sudah tentu mereka adalah manusia-manusia egois yang bertitel. Bayangkan saja, teman saya yang sudah hampir copot nyawanya karena tidur sejam selama seminggu itu diminta dosennya untuk merubah lagi jenis penelitiannya. Merubah jenis penelitian sama dengan meminta Sule untuk mengganti wajahnya. Alias, ulang dari awal lagi! Jeng jeng! Si dosen malah meremehkan apa yang dikerjakan olehnya. Dibilang instrumennya beginilah, judulnya anehlah, rumus penghitungannya salah-lah. Lucunya (dan ironisnya), teman saya ini merevisi apa yang dosennya sebelumnya beritahukan mengenai judul yang benar, instrument, cara menghitung data, dsb. Direvisi PERSIS di bagian yang beliau coret dan diberi note di atas skripsinya itu. Salah tanda baca pun ia edit dengan sunggguh-sungguh. Teman saya cuma bisa manyun, mengikuti ke-egoisan si bapak/ibu dosen. Sebab, dosen jenis ini tidak bisa dilawan. Dan belum pernah dalam sejarah yang saya dengar ada mahasiswa yang melawan dosen macam ini.

9. Dosen Margaret Thatcher
Margaret Thatcher adalah Perdana Menteri Inggris wanita yang dikenal bertangan besi. Ketika beliau meninggal, ada yang bersuka cita, ada yang bersedih. Setahu saya, lebih banyak yang bersuka cita. Gen kedisiplinan ala Mrs. Thatcher ini ada pula yang memiliki. Setiap saat harus mengikuti aturan, harus memiliki referensi yang asli, bukan kutipan alias second hand, editan harus rapi, bertemu jika memang harus bertemu, dsb. Bagi yang merasa menjadi mahasiswa yang malas, siap-siap saja bila skripsinya disandingkan dengan dosen semacam ini. Jangan takut atau panik dulu. Sebaliknya, ambil hikmahnya saja. Siapa tahu kalian diberikan pencerahan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik (ceilah!).

10. Dosen Sakaw
Kenapa saya sebut sakaw? Karena beliau-beliau ini biasanya bila dipuji langsung seperti remaja yang baru nyabu. Mereka senang jika diperlakukan demikian oleh mahasiwanya sebab mereka haus akan pengakuan secara positif. Selain pujian, mereka juga demen sama sogokan macam apapun. Bila melangkah, harus ekstra hati-hati. Sebab, kita tidak tahu apakah beliau benar-benar memberikan kita nilai bagus setelah dipuji atau malah sebaliknya. Biasanya, mereka ini justru bersikap sangat subyektif.

11. Dosen Sesat
Sesat yang dimaksud bukan aliran, namun pengetahuan yang diberikan oleh dosen-dosen yang satu ini. Tidak pernah bisa dipungkiri, jenis penelitian berbanding lurus dengan jenis dosen pembimbing nantinya. Namun, ada saja satu dua kejadian dimana dosen (biasanya pembimbing kedua, atau ketiga jika ada) diminta untuk membantu mahasiswanya dalam menyelesaikan skripsi yang bukan bidang keahliannya. Tahu sih iya, tapi mendalami tidak. Ingat, suatu ilmu masih mempunyai banyak lagi cabang-cabang ilmu lainnya. Seperti contoh, pendidikan bahasa Inggris yang memiliki banyak dosen yang melanjutkan studi S2 dan S3 di bidang Linguistik (ilmu bahasa) dan ada juga yang lebih mendalami bagian pendidikannnya. Jadi ketika teman saya yang mengangkat penelitian tentang Linguistik mendapat pembimbing yang bergelar Master di Pendidikan, agak runyam jadinya. Sang dosen harus membaca bukunya waktu S1 lagi sebelum memberikan pencerahan. Terkadang ia juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan teman saya. Kalau beliau sendiri tersesat, bagaimana nasib mahasiswa?!
Kategori selanjutnya adalah yang paling mudah, yaitu cara penilaian dosen. Penilaian tentu berhubungan dengan subyektifitas atau obyektifitas dosen. Namun, caranya ternyata beragam terlepas dari jenis penilaian mereka.
1. Melihat Kegigihan Mahasiswa
Saya pernah mendengar curhatan dosen saya sendiri yang mengatakan bahwa ia lebih senang membantu mahasiswa yang rajin dan mau berusaha ketimbang yang pintar-pintar, tapi sekalinya datang malah minta tanda tangan supaya bisa maju ujian. Waku bimbingan, ia jarang datang. Malah menghabiskan waktunya di warung kopi. Merasa sudah terlalu pintar mungkin? Hal ini snagat menguntungkan bagi mahasiswa yang tahu karakter dosen pembimbingnya. Sering datang bimbingan atau sekedar konsultasi basa-basi apa susahnya? Toh, yang pengetahuannya bertambah itu kita, bukan ayam kita di kampung.

2. Mengecek Referensi
Ini penting bagi beberapa dosen karena dari referensi mereka tahu apakah mahasiswa ini mengerjakan sendiri isi dari skripsinya. Kalau hanya ngopi saja kutipan tersebut dari skripsi orang, umumnya mahasiswa jenis ini sering lupa meletakkan referensinya dari mana. Maka dari itu, penting jika kalian mengutip sesuatu harus dengan daftar pustakanya juga. Kalau dosen yang levelnya tinggi, mereka bahkan bisa meminta mahasiswanya untuk membawa bukti berupa buku atau artikel tempat mereka mengutip.

3. Plagiarisme
Sekali ketahuan, gelar sarjana dibatalkan. Maka dari itu, sudah banyak dosen yang aware dengan hal yang satu ini.  Tidak segan-segan bahkan kampus memfasilitasi dosennya dengan software untuk menguji plagiarisme suatu karya dan membatalkan wisuda yang terbukti melanggar. Saya sarankan agar kawan-kawan membuat skripsi semampu otak kalian. Yang penting, itu hasil buatan sendiri. Bukan manipulasi! Jika lelah membuat skripsi, istirahatlah. Baru lanjutkan lagi. Merasa tidak lagi mampu melanjutkan? Okelah, jangan lanjutkan. Mungkin bukan jalan kalian untuk menyelesaikan skripsi.

4. Kemenarikan Penelitian
Mungkin ini yang paling sering dibahas karena sebagian besar dosen akan terus mengingat karya-karya mana yang menarik minat mereka. Mereka pasti dengan senang hati mengulurkan tangan untuk membantu kalian dalam menyelesaikan skripsi. Namun, keadaan terburuknya adalah siap-siaplah untuk mencari lagi ide penelitian yang lain. Sebab, banyak yang awalnya judul proposal tersebut dielu-elukan, tapi ketika masuk Bab 4, hasil penelitian tidak bebuah apapun atau tidak berujung kemanapun atau ternyata tidak bisa menyelesaikan karena sesuatu dan lain hal.

5. Aturan dari Segala Sisi
Setiap tahun, kampus mungkin saja merubah aturan dalam pembuatan skripsi, tesis atau disertasi sesuai dengan pekembangan zaman atau perubahan aturan Internasional yang dianutnya. Cara membuat artikel-pun biasanya dibahas dalam sebuah buku yang patut dimiliki oleh semua tetua-tetua jurusan (a.k.a mahasiswa/I semester akhir). Ada saja dosen yang selalu menilai skripsi yang dibuat oleh mahasiswanya dengan detail; isi, hasil, margin, font, hingga cara mengutip sebaris kata ataupun satu paragraf sang empunya teori. Jangan salah, banyak mahasiswa yang terkecoh dengan meyakini bahwa ‘dosen kita tidak akan menilai sampai segitunya karena banyak skripsi yang harus diperiksa’. NO WAY! Memeriksa atau tidak, kalian harus tetap pukul rata; memperhatikan aturan dan mengikutinya dengan baik. Toh, ketika kalian keluar menjadi bagian dari masyarakat, akan ada lebih banyak aturan yang harus kalian jalani.

Kategori yang terakhir yaitu hubungan antar dosen pembimbing ini merupakan yang terberat yang harus seorang mahasiswa jalani sebagai ujian dari Yang Maha Esa. Hubungan ini, yang saya lebih senang menyebutnya sebagai simbiosis (Jujur, saya masih perlu membuka RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) kelas 5 SD saya yang dulu untuk memberikan informasi yang benar mengenai simbiosis-simbiosis yang saya bahas *tertawa pedih*), sedikit banyak mempengaruhi penyelesaian skripsi. Jadi, perhatikan baik-baik.
1. Simbiosis mutualisme
Hubungan antara burung jalak dan kerbau ini sebagian besar dapat ditemui dengan mudah. Jadi, bagi siapapun yang mendapat dua atau tiga pembimbing yang bisa saling support satu sama lain, bersyukurlah. Jangan sekali-sekali dimanfaatkan karena akan berbalik menyerang seperti bumerang. Mereka akan saling membantu dan memberikan masukan sejalan satu sama lain supaya skripsi kawan-kawan cepat selesai dan mereka tidak perlu lagi melihat kalian (lha?).

2. Simbiosis parasitisme
Saya tidak mengerti dengan kejadian yang menimpa teman saya. Dia mendapatkan dua pembimbing yang keduanya pernah mengenyam bangku S3 (ceilah, bangku!). Entah karakter keduanya secara individual seperti apa, yang jelas keduanya tidak akur. Bahkan teman saya yang rajin berdo’a masih saja kelimpungan mengurusi pertengkaran diam-diam mereka ini. Usut punya usut, kedua dosen tersebut memiliki paham berbeda walaupun bidang keahliannya sama. Manusia tidak ada yang sempurna, apalagi teori dan penelitian yang mereka yakini benar. Bertabrakanlah kedua paham ini dan yang hancur adalah hati teman saya berikut setiap lembar skripsinya. Setiap dia bimbingan, selalu saja apa yang dikatakan berbeda satu sama lain. Jika diberitahukan bahwa pembimbing B berkata lain, pembimbing A (mungkin) tidak terima dan bahkan bisa sampai menuntut penilaian mahasiswa tentang siapa yang lebih pandai. Haduh! Keadaan tidak saling mendukung ini (syukurnya) diakhiri dengan salah satu pihak mengalah. Pohon mangga menjadi kurus karena makanannya dihisap oleh si benalu.

3. Simbiosis komensalisme
Yang ini seperti anggrek yang hidup dengan cara menempel di batang pohon tumbuhan lain. Yang satu beruntung, yang satu tidak dirugikan. Apa bedanya dengan simbiosis mutualisme? ‘Kan sama-sama untung. Begini… anggrek untung bisa mendapatkan cahaya matahari dengan lebih baik, si pohon tidak rugi dan tidak untung apa-apa sebab anggrek juga tidak mengambil makanannya dan tidak memberikan kontribusi aktif pada si pohon (selain si pohon makin cantik tentunya). Itu menurut pemahaman saya.  Hubungan aneh ini pernah dialami oleh seseorang yang saya kenal baik. Dia memiliki seorang dosen (Anggrek) dan seorang lainnya (Pohon). Dosen Anggrek ini mendapatkan lebih banyak ilmu dengan membimbing skripsi teman saya sementara yang satunya (pernah membuat skripsi serupa) mau dia hanya sekedar melihat atau benar-benar memperhatikan skripsi itu juga tidak ada untung atau rugi bagi dia. Hanya sekedar membimbing lalu maju ujian. Selesai.

Panjang betul ternyata ulasan saya mengenai jenis-jenis dosen pembimbing skripsi ini. Harap maklum jika banyak jenis-jenis yang belum saya ketahui karena saya yakin di luar sana masih ada cerita-cerita menarik yang belum terungkap. Sekali lagi saya ingatkan (supaya kawan-kawan tidak lagi capek-capek membaca head di atas) tulisan ini hanya untuk sharing.  Intinya yang ingin saya beritahu adalah ketika menulis skripsi itu seperti menulis bagian akhir sebuah novel. Sulit menciptakan ending seperti apa yang bagus dan tepat seperti harapan kita. Skripsi, adalah ending itu. Tidak mudah memang membuat skripsi yang baik karena manusia sendiri bukanlah orang yang sepenuhnya sempurna. Jadi, penelitian macam apappun pasti tidak ada yang sempurna.
Yang harus kawan-kawan pahami adalah bukan masalah dosen seperti apa atau jenis skripsinya apa, sebab skripsi itu menguji mental kalian. Pecuma jika pintar akademik, tapi doyan plagiat penelitian orang atau gampang K.O di tengah jalan. Jika orang-orang seperti itu lolos begitu saja, akan banyak manusia-manusia bermental tempe, akan lahir penipu yang menjadi koruptor nantinya dan lebih parah lagi, menjadi sampah masyarakat. Di sinilah mahasiswa/I di-training pengalaman hidup karena tantangan sebenarnya dimulai setelahnya.
Selamat berjuang!