CATATAN KAKI Bagian 1 Kaki-kaki di Bawah Gemintang

Aku pernah melakukan perjalanan sejauh 3 kilometer melintasi sebuah kota sepi nan kelam dengan hanya berjalan dengan telapak kakiku yang panjangnya cuma 40 senti. Sungguh melelahkan memang, namun aku menemukan sesuatu yang baru…. Sesuatu yang menggairahkan batinku yang telah renta karena lama tak menulis lagi. Selama perjalanan itu, aku mengetik kata-kata di otakku dan catatan agar aku tak lupa menulis dan membagikannya kepada kalian. Perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan penting dalam sembilan belas tahun hidupku. Ya! Aku melakukannya untuk mencapai sebuah tujuan yang penting. Tapi, ini rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam perjalanan di bawah gemintang itu, aku membangun sebuah kerangka, rencana yang aku tahu akan mengubah segalanya. Aku ingin mencapai tujuanku itu, dengan berjalan.

Pasti banyak orang-orang yang bertanya, mengapa aku harus menggunakan kakiku ketimbang mengendarai motor? Ya, aku tahu jelas jawaban itu. Sebuah tempat, yang aku tuju itu tidak jauh jika harus mengendarai motor. Paling hanya 5 menit. Bagiku, lima menit itu ada artinya. Lima menit itu bermakna karena banyak yang bisa aku lakukan dalam 5 menit. Jika aku mengendarai motor atau mobil, aku tak akan pernah mempedulikan sekitarku. Hanya hitam dan hijau… membentuk garis yang tak putus-putus jika aku mengendarai motor atau mobil dengan kecepatan tinggi. Apa yang bisa aku lihat dalam keadaan itu? Tidak ada! Aku hanya lewat, layaknya manusia-manusia yang selalu tak aku kenal bila berhenti di lampu merah. Orang-orang baru yang aku tak tahu rautnya seperti apa karena tertutup kaca helm atau gelapnya riben kaca mobil. Saat aku berjalan, semua hal termasuk semut-semut yang menjalari tembok bangunan tua-pun terlihat. Di malam itu, aku melirik hal-hal lama, namun baru aku benar-benar bisa melihat dari jarak dekat.

Sebuah gedung yang berada dalam proses pembangunan, malam itu terlihat indah dan megah. Lampu-lampu terang dari bawah dan atas bangunan memberikan kesan bahwa bangunan itu akan menjadi primadona bagi siapapun yang melihat. Ada juga bangunan tua dan terpojok, termakan kegelapan. Sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi hidup di pekarangannya, namun entah siapa yang memelihara. Kepalaku terus saja memproses apapun yang ingin aku pikirkan. Entah itu sesuatu yang baru saja aku lihat, apa yang aku ingin lakukan saat tiba nanti, bagaimana keadaan pengemis yang tidur di emperan toko, kapan aku akan wisuda… segalanya! Mungkin puluhan, bahkan ratusan hal yang melintas di rel-rel syarafku. Entah hal itu hanya sekedar lewat ataupun sebuah masalah yang ternyata bisa aku selesaikan dengan baik. Aku tak bisa melakukan hal semacam ini saat berkendara. Ya, semua hal terkesan terlalu terburu-buru bila mengendarai motor. Aku mengejar waktu yang abstrak, menangis bila aku tak dapat meraihnya. Yah…. Begitulah manusia kota. Pusing dengan diri sendiri hingga stress tak karuan karena sebab musabab yang tak nyata, tak teraih oleh tangan.

Ketika aku menapaki lagi tanah di bawahku sedikit demi sedikit, aku bertemu sesorang. Ia laki-laki dan ia bertanya,”Mau kemana?”

Aku jawab,”Ke sana.”

“Kok jalan kaki?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangkat bahu dan pergi. Lho, memangnya kenapa kalau aku berjalan kaki? Apakah ada peraturan bahwa seorang gadis tidak boleh berjalan kaki malam-malam? Memangnya semua orang harus mengendarai motor atau mobil kalau ingin pergi ke suatu tempat? Apakah aneh kalau aku memilih untuk berjalan? Banyak sekali pertanyaan yang menyesaki rongga di tengkorak kepalaku.

Ya, ada saja orang iseng yang aku temui jika aku berjalan di malam hari seperti anak kecil yang tersesat. Aku juga bertemu seorang tua yang mengendarai matic malam-malam. Ia menghampiriku dari belakang, menanyaiku dengan prihatin,”Dik, mau kemana? Pulang? Bapak antar, ya? Dimana rumahnya?”

Aku yang masih shok hanya menggeleng-geleng kepala, ingin menangis saja rasanya bertemu orang seperti bapak ini. “Oh, tidak usah, Pak. Dekat, kok. Dari sini tinggal belok saja.”

“Oh, kalau mau tumpangan, bilang aja sama bapak, ya.” Aku mengangguk dan kemudian ia pergi. Oh, ya Tuhan! Ada-ada saja rencanamu malam itu. Aku dipertemukan pada seseorang yang masih peduli dengan sekitarnya, merasa kasihan pada sesuatu yang menimpa orang di jalanan. Aku pasti takkan pernah bertemu dengan orang semacam ini bila aku mengendarai motor atau mobil. Orang-orang seperti bapak itu akan terlewat begitu saja. Hati tulus seperti itu… kita bahkan tak tahu siapa yang benar-benar memilikinya. Aku sempat berpikir, orang zaman dahulu ketika kendaraan merupakan sesuatu yang ‘mahal’ sehingga lebih memilih berjalan kaki, lebih jauh peduli terhadap sesuatu. Mungkin karena apa yang aku alami. Aku lebih mencintai seluk beluk kota sepi nan kelam ini, aku lebih peduli dengan detail-detail dan kebobrokan di balik kemegahan. Ah, tapi itu cuma hipotesis asal-asalan semata!

Kembali lagi kaki-kakiku berjalan menempuh rute yang sudah aku hafal enam bulan belakangan ini. Aku mencintai jalan ini, jalan yang dekat dengan kuburan dan jembatan serta sungai yang deras di bawahnya. Aku mencintai setiap kenangan ketika melewati jalan ini. Aku mencintai orang-orang yang aku ajak saat melewatinya. Aku mencintai apapun hal yang terjadi di sepanjang 3 kilometer ini. Ah… aku juga mencintai orang-orang yang memperkenalkan jalan ini kepadaku. Sebuah jalan beraspal dan riuh rendah di siang hari tersebut ternyata adalah jalanku menuju sesuatu yang lebih besar… sesuatu yang akhirnya menjadi sebuah batu loncatan pada hidupku yang standar. Sesuatu yang akhirnya aku dapatkan setelah lelah berjalan di antara neraka jahanam ini. Beberapa menit setelah aku berpikir demikian, aku akhirnya sadar. Dunia semakin berkembang, membentuk sebuah peradaban baru yang sangat cepat. Benda-benda pun dirancang untuk mempermudah kegiatan seseorang. Namun, terkadang, kita harus berhenti sejenak… berlambat-lambat sebentar untuk melihat sekeliling kita, meratapi yang sebenarnya terjadi di jalanan. Tidak ada salahnya untuk lelah berjalan, lelah berpeluh-peluh. Aku pun belajar darinya. Pelajaran berharga dimana kita harus tahu bahwa tak selamanya kita bisa mencapai tujuan secepat yang kita mau. Pelan-pelan saja karena sebenarnya orang yang berjalan pelan adalah orang yang lebih banyak belajar sesuatu… lebih teliti dan peduli. (photo: facebook.com)Image:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s