Catatan Kaki SMA

Motor Kesayangan

Juli, 2009


Di hamparan parkiran sekolah yang luas—sebenarnya itu lapangan basket dan voli—aku memperhatikan ratusan anak yang datang pagi itu. Terutama kendaraan yang mereka bawa. Hampir semua, jika aku tak salah lihat, motor yang dijejer rapi di sana adalah keluaran motor matic terbaru. Mereka motor ompong, tidak ada giginya. Tapi kinclong di bawah paparan sinar matahari yang hangat.

Mungkin hanya motorku yang masih dengan giginya, keluaran sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Jika ditanya, apakah aku senang dengan motor itu, aku jawab ya (enam atau tujuh tahun lalu). Ketika motor itu masih mulus, mesinnya berbunyi halus dan banyak pengendara yang memilih membawanya kemana-mana. Aku ingat betul saat berhenti di lampu merah, hatiku senang melihat ada “teman” sesama jenis motor itu dengan sama atau beda warna. Pokoknya waktu itu, motor tersebut sangat terkenal. Selain murah, irit bensin juga.

Merk-nya SMACK, warna hitam dengan desain yang simple dan menurutku oke di masanya. Papaku bertugas untuk membawanya, mengatarkan ia dan anak-anaknya pergi ke sekolah, kembali ke rumah, ke rumah Nini atau sekedar belanja ke warung. Itu motor kedua di keluarga kami. Tapi, bukan kami yang beli. Itu punya Om-ku, Mama meminjam darinya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Bukankah Om-ku begitu mulia?

Motor pertama adalah motor kantor Mamaku, tidak ada yang boleh mengganggu gugat penggunaanya. Jadi… aku sekeluarga tidak punya motor resmi atas nama kedua orang tuaku. Keduanya hasil pinjaman.

SMACK adalah motor yang juga aku gunakan untuk belajar berkendara saat di usia 15 tahun. Saat aku sudah mantap naik motor, penggunaanya jatuh ke tanganku. Dengan semua yang tersisa dalam diri SMACK, aku mengendarainya untuk menempuh pendidikan di sebuah SMA Kristen.

Kami (aku dan SMACK) melewati hari-hari penuh kasih, namun terkadang SMACK sangat kelewatan. Bayangkan saja, dia bisa pecah ban sampai dua kali sebulan! Karena faktor dari dalam juga (hampir tidak pernah Mama dan Papaku bilang soal servis-menyervis SMACK), kadang aku terpaksa harus membawanya ke sebuah bengkel yang belum buka sekalipun. Keringat yang mengucur di bawah matahari terik musim kemarau itu membuat baju dan jaketku yang tipis seperti habis dibasahi seember air.

Seorang teman yang melewatiku di kelas mendengus dengan kesal dan dengan ‘polosnya’ bertanya,”Siapa yang bawa telor busuk ke sini?”

Itu aku.

Bukan, maksudku bukan bawa telor busuk. Tapi, (mungkin) aku yang berbau seperti itu karena keringat yang berlebih. Malu? Iya!

Hanya saja aku tidak segera menimpali atau bertanya jika benar itu karena dia mencium bau keringatku kepada teman yang lain. Yang lebih parah lagi, waktu pecah ban di sekolah. Saat hendak pulang aku menyadari bahwa ban belakang SMACK tidak sekencang tadi pagi. Kempes.

Dalam keadaan tidak punya uang dan harus segera pulang untuk ikut les, cara yang terpikir olehku saat itu adalah menuntunnya pulang. Tapi, sama sekali tidak pernah aku pikirkan adalah razia polisi dadakan di dekat—maksudku hanya satu kilometer—rumahku. Ah, aku kan membawa motor kempes, tidak sedang menaikinya. Mana mungkin aku dirazia? Batinku.

Dengan tanpa dosa (baca: bodoh) aku melewati polisi-polisi tersebut yang ternyata mencegatku. Menanyakan SIM dan STNK yang jelas-jelas tidak kupunya. Menelpon Mamaku hanya sia-sia karena pulsa yang tersisa hanya Rp 1. Akhirnya aku hanya bisa pasrah melihat Pak Pol menuliskan surat tilang dan membawa serta motorku dengan ban kempesnya.

Sepanjang perjalanan pulang, hatiku berkecamuk. Aku menangis. Menangisi semuanya. Aku hanya bisa menyodorkan secarik kertas kuning tanda cinta dari Pak  Pol kepada Papa. Endingnya lumayan tragis. Aku tidak akan menceritakannya. Tapi, SMACK kembali ke pelukan kami. Itulah awal mula aku mendapatkan SIM.

Perlu diketahui sebenarnya aku tidak percaya diri ketika harus membawa SMACK ke sekolah karena usianya yang renta. Aku sebagai pemilik kedua juga tidak punya modal untuk merawat motor tersebut. Sayap motor yang retak, bodi motor yang berbunyi saat melewati jalan rusak, jok yang tidak bisa dikunci lagi, aki yang tak tergantikan, pijakan kaki penumpang yang tersisa hanya satu… semua kubiarkan. Bahkan ketika baut di plat motor hilang, aku memasangnya kembali dengan tali rafia hijau.

Apalagi temanku hampir setiap pagi memintaku untuk menjemputnya. Dia hanya bisa memaklumi keadaan SMACK. Sambil juga aku memendam malu karena SMACK tidak seganteng motor temanku yang lain.

Selepas SMA, SMACK digantikan oleh SUPRI, motorku yang baru. Mama membelikannya karena aku lulus perguruan tinggi di luar kota. Sepeninggalku, SMACK kembali ke Papa dan ketika aku kembali, SMACK yang telah begitu sabar terlihat semakin renta. Mesin motornya minta diturunkan, diganti yang baru. Suaranya seperti panci Mama kalau dipukul dengan sodet.

Akhir cerita SMACK tidak diturunkan mesinnya. Dia diparkir di halaman belakang, berdebu dan tidak gagah lagi. Kemudian ada empat motor yang menggantikan tugasnya. Masing-masing untuk tiga adikku dan satu lagi untuk Mama atau Papa. Kadang aku melupakan SMACK dan kewajibanku untuk ‘mengobati’-nya. Dan ketika aku ingat lagi, itu karena aku mengenang perjalanan kami lewat tulisan ini. 

Advertisements

Kisah Seekor Katak Kecil

Di sebuah kolam yang besar dan tenang, hiduplah seekor katak bernama Odi. Ketika ia masih berupa kecebong, Ayah dan Ibunya dimangsa binatang lain. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain tidak mampu bertahan hidup saat badai paling ganas menimpa daerah tersebut. Jadilah Odi hidup sebatang kara. Namun karena kolam yang besar itu banyak dihuni kata-katak lain, ia tidak merasa kesepian.
Hanya saja, jauh di dalam hatinya, ia merasa kecil. Itu karena kedua kaki belakang Odi yang lebih pendek daripada katak-katak lain seusianya. Sehingga, ia selalu menjadi yang paling belakang ketika melompat bersama teman-teman yang lain. Odi merasa sangat iri saat banyak katak yang memuji Hugo, si pelompat ulung.
Hugo mampu melompat sangat tinggi, hingga katanya seolah-olah ia mampu mencapai langit. Ia juga mampu sampai ke ujung padang rumput di bibir hutan hanya dalam beberapa lompatan saja. Namun, ia bukanlah katak yang ramah. Hugo terlalu sombong untuk sekedar menyapa Odi.
Dia bahkan mengejek Odi beberapa kali hingga suatu hari Odi berkata,”Hai, Hugo. Kalau memang benar lompatanmulah yang paling hebat, kau harus berani menantangku.”
Hugo yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak,”Siapa kau berani menantangku?”
“Banyak katak yang memuji kehebatan lompatanmu, tapi apakah kau pernah mengujinya dengan katak-katak yang lain?”
Mendengar kenyataan itu, Hugo merasa geram. Ia ingin agar katak kecil itu tahu bahwa kaki-kaki pendek tersebut tidaklah sepadan dengan kemampuan kaki belakangnya yang luar biasa. “Baiklah,” katanya,”besok pagi, kita akan bertemu di ujung padang rumput. Siapa yang tiba lebih dulu sampai ke garis akhir, dialah pemenangnya. Jika kau kalah, aku akan menjadikanmu pesuruh. Begitu pula sebaliknya.”
Odi merasa sangat gugup. Sepanjang malam, ia memikirkan berbagai cara agar bisa mengalahkan Hugo. Tidak terasa, matahari hari itu terbit lebih cepat. Katak-katak lain sudah bangun dan menanti mereka berdua di pinggir padang rumput. Tidak ada yang mau melewati kompetisi ini. Banyak yang bersorak untuk kemenangan Hugo. Hanya beberapa teman dekat Odi yang menyemangatinya. Odi memandang teman-temannya dengan tatapan ragu-ragu.
“Siap!” teriak Ketua Suku Katak,”mulai!”
Hugo yang berada di samping Odi kini hanya bayangan di bawah sinar matahari, jauh di atas kepala Odi. Maka, ia segera memulai lompatannya. Satu, dua, tiga… empat! Saat hitungan ke dua puluh, Hugo masih jauh beberapa puluh meter di depannya. Di tengah padang rumput, Odi berpikir untuk berhenti. “Mengapa aku harus menantang Hugo?” begitu pikirnya. “Mengapa aku harus membuat masalah kepada diriku sendiri?” tambahnya lagi.
Namun, Odi juga tidak mau Hugo kembali menyombongkan kemampuannya tersebut. Sulit baginya untuk membayangkan menjadi bahan ejekan katak berbadan besar itu saat tiba di garis akhir nanti. Maka, dia terus melompat. Hap! Hap! Hap! Matahari semakin panas hingga membuat Hugo dan Odi kehausan. Hugo berhenti sejenak di tengah padang, namun menyesalinya kemudian karena ternyata rasa haus tidak menghentikan Odi untuk terus melompat dan melompat!
Beberapa meter dari garis akhir, mata Odi berkunang-kunang. Ia berhenti sejenak untuk melihat Hugo dengan lihainya melompat setinggi langit. Mata Odi memicing ketika memandangi lawannya yang melompat seakan hendak menggenggam matahari tersebut. Ia dapat mendengar tawa Hugo, yakin bahwa dirinya-lah sang pemenang. Namun, saking tingginya ia melompat, ia tidak melihat ada sebuah lubang tepat di tempatnya mendarat dan… tawanya berubah menjadi teriakan yang menggaung hingga ke dasar lubang. Kemudian, tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan sang calon jawara.
Katak-katak yang menonton, termasuk Odi, mendekati lubang yang gelap tersebut. “Hugo telah hilang ke dasar bumi!” seru salah satu katak.
“Malangnya nasib Hugo.”
Padahal aku telah yakin bahwa ia yang akan menang.”
“Mungkin ia sudah dimangsa oleh ular yang menempati lubang ini!”
Begitulah kata-kata yang diucapkan katak-katak lain. Baginya, sangat mengejutkan melihat lawan mainnya melompat dan mendarat entah dimana. Penonton kompetisi tersebut memandangi Odi. Mereka tidak bertepuk tangan dan menyudahi kompetisi dengan pulang kembali ke kolam sebelum senja.
Odi memandangi lubang tersebut. Bahkan katak-katak yang dulu memuji Hugo tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Ada rasa kasihan yang terbesit di hati katak berkaki pendek itu. “Seharusnya aku tidak memulai kompetisi ini,” sesalnya dalam hati. Ia berbalik ke kolam sesaat setelah do’a ia berikan untuk katak yang selalu mengejeknya tersebut. Sejak itu, tidak ada lagi yang berbicara tentang kompetisi. Bahkan tidak ada yang merasa kehilangan dengan ketiadaan Hugo di antara mereka. Semua kembali hidup seperti biasa. Termasuk Odi yang berjanji pada dirinya sendiri untuk hidup dengan apa yang dia miliki.

Orang-orang di Sudut Mata

Ada wanita, duduk di pinggir jalan. Lusuh, rambutnya berpeluh. Wajahnya menua karena waktu yang tidak memiliki iba. Padanya yang duduk sebatang kara. Digaruknya hidung, leher… hidungnya lagi. Penampilannya tak keruan. Yang dijinjingnya hanya sebuah plastik bergaris hitam putih. Sebuah botol yang bagian atasnya menyembul dari kerah kaus lusuhnya. Di bawah temaram lampu kuning Jalan Gajah Mada, dia hanya wanita di sudut mata.

Laki-laki paruh baya, yang rindu akan keluarga, bersiap-siap tidur. Hatinya lelah karena lembur. Maka, di antara toko yang masih buka dan yang sudah tutup itu, ia menggelar tikar. Tangannya sibuk melipat sarung satu-satunya. Namun, ada beberapa tas yang ia bawa. Apa gerangan isinya? Siapa yang tahu. Siapa yang mau tahu? Hidup di kota, tidak ada yang mau mendengar derita kalau bukan miliknya. Dia hanya lelaki di sudut mata. Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa. 

Buah-buah Untuk Pak Monyet

Hutan di balik bukit sedang ramai. Ya, hari ini adalah musim buah-buahan. Apapun jenis buah yang ditanam seluruh hewan di hutan akan berbuah. Ada rambutan, durian, mangga, duku, salak, jeruk, apel, anggur, semangka, melon, dan banyak lagi! Tidak ada hewan yang bermalas-malasan di dalam rumah pohon atau sarangnya. Burung, jerapah, rusa, kambing, kura-kura, landak, bahkan gajah ikut dengan tulus membantu membawakan berbagai macam buah ke sarang hewan-hewan pemakan tumbuhan lain.
Pak Monyet pun bangun pagi dan memetik buah di dekat pohonnya. Tapi, badannya yang sudah tua tidak memungkinkan dia untuk memanjat pohon-pohon lain. Sebelum matahari berada di atas kepala, Pak Monyet berhenti memetik buah dan duduk di atas pohonnya. Hanya satu keranjang pisang yang ia dapat hari itu. Namun, Pak Monyet bersyukur karena masih bisa makan buah hasil panen.
“Hai, Pak Monyet!” sapa burung merpati,”mengapa Anda duduk saja di atas pohon?”
“Ah, aku begitu lelah hari ini setelah panen,” jawab Pak Monyet.
Burung merpati bertanya lagi,”Mengapa Anda tidak meminta tolong hewan-hewan lain?”
“Tidak perlu. Mereka sudah cukup membantuku saat panen tahun lalu. Sekarang, biarkanlah aku sendiri yang memetik buah-buahan itu,” katanya.
“Tapi, apakah sekeranjang pisang cukup untuk makan Anda?”
“Tentu tidak,” jawab Pak Monyet dengan senyuman yang hangat. “Aku akan memetik lagi besok.”
Burung merpati yang penuh belas kasih itu berpikir untuk membantu Pak Monyet. Maka, dengan segera dia memanggil beberapa tema-teman hewan yang lain. Kuskus Tikus Tanah, Bibi Babi, dan Jeje Jerapah yang saat itu sedang duduk di bawah pohon dengan senang hati membantu Merpati untuk menolong Pak Monyet.
“Aku akan membawakan kacang tanah untuk Pak Monyet!” seru Kuskus Tikus Tanah.
“Mamaku memanen banyak apel hari ini. Aku bisa memberikan sekeranjang untuknya,” kata Bibi Babi. Dia sangat gembira.
Jeje Jerapah berpikir dan berseru girang,”Semangka-semangka dan jerami untuk membuat atap di pohon Pak Monyet pasti akan membuatnya senang.”Merpati terharu dengan kebaikan teman-temannya itu. “Terima kasih, teman-teman. Aku juga akan membawakan jagung-jagung manis untuknya.”
“Apakah kamu sudah memberitahu Pak Monyet kalau kita akan membantunya?” tanya Bibi Babi.
“Aku belum memberitahu Pak Monyet,” kata Merpati.
“Wah, ini pasti akan menjadi kejutan yang menyenangkan!” seru Jeje Jerapah bahagia.
Maka, mereka berempat kembali ke sarang mereka masing-masing. Mereka memberitahu orangtua mereka yang masih memanen buah tentang rencana untuk membantu Pak Monyet. Ternyata, orang tua mereka setuju dengan rencana tersebut. Dengan dibekali buah-buahan hasil panen, mereka berkumpul kembali dan berangkat bersama-sama ke pohon Pak Monyet.
Tempat tinggal Pak Monyet memang agak jauh, di dekat sungai besar. Di tengah-tengah perjalanan, Bibi Babi mulai kelelahan. “Aduh, aku capek!” keluh Bibi Babi.
Ayo, kita hampir sampai!” kata Merpati menyemangati.
Ternyata, Kuskus Tikus Tanah dan Jeje Jerapah merasakan hal yang sama. “Bisakah kita menepi sebentar?” tanya Kuskus Tikus Tanah.
“Jika kita menepi, kita akan terlambat sampai ke pohon Pak Monyet dan kembali ke rumah kita ketika matahari terbenam,” kata Merpati.
“Huh, kamu enak bisa terbang. Kamu tidak merasakan kelelahan seperti kami,” ujar Bibi Babi agak kesal. Tanpa pikir panjang, dia terus berjalan sambil mengambil sebuah apel untuk dimakannya. Jeje Jerapah juga memakan sebuah semangka yang dibawanya untuk mereda kehausan.
Tak ketinggalan Kuskus Tikus Tanah ikut-ikutan membuka keranjang berisi kacang tanah yang dipanen pagi itu. Kacang-kacang yang masih segar itu segera masuk ke perutnya hingga membuat Kuskus semakin gendut. Setelah makan, mereka malah semakin malas dan mengantuk. Langkah mereka semakin lama semakin berat.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar gemerisik pohon-pohon dan suara itu berhenti tepat di dekat mereka. Ternyata itu Pak Monyet yang sedang berjalan-jalan. “Mengapa kalian ada di sini? Hari sudah sore, sebaiknya kalian pulang.”
“Sebenarnya kami ingin sekali memberikan kejutan untukmu,” kata Merpati sambil memperlihatkan keranjang-keranjang buah yang mereka bawa. Jeje Jerapah meyodorkan keranjang berisi semangka dan jerami hangat untuk Pak Monyet. Namun, ia tidak menyadari bahwa semangka yang diletakkan di atas jerami hanya tersisa satu buah dari lima buah yang sebelumnya ia bawa.
Kuskus Tikus Tanah harus menahan malu karena keranjangnya penuh dengan kulit kacang. Kini ia bahkan tidak bisa menghitung berapa biji yang masih utuh untuk diberikan kepada Pak Monyet. Bibi Babi menoleh untuk melihat keranjang buah berwana pink yang kini kosong! Apel-apel itu sudah dimakannya dengan lahap sampai ia lupa diri. Hanya jagung manis milik Merpati saja yang masih utuh.
Kuskus Tikus Tanah berkata,”Dalam perjalanan, kami memakan beberapa buah. Tapi kami tidak menyangka kami memakan hampir semua buah yang akan kami berikan.”
“Aku bahkan sudah memakan semuanya!” kata Bibi dengan wajah muram.. Tak disangka, Pak Moyet malah tertawa melihat Kuskus, Jeje dan Bibi.
“Mengapa Anda tertawa, Pak Monyet?” tanya Merpati.
“Hahaha… kalian sebenarnya tidak perlu repot-repot. Tapi, aku tetap berterima kasih atas kejutan kalian.
Pak Monyet membawa keranjang-keranjang tersebut dan mengajak mereka mengunjungi rumah pohonnya. Saat itu, matahari sudah terbenam dan Pak Monyet menyarankan agar mereka pulang esok hari saja. Merpati ditugaskan untuk membawa berita tersebut supaya orang tua mereka tidak khawatir. “Aku akan kembali ke rumah lebih dulu. Tapi, esok pagi-pagi sekali aku akan datang lagi menjemput kalian,” janji Merpati. Ia tersenyum penuh arti.
Jeje Jerapah yang mendapat bagian tidur dekat dengan jendela bertanya,”Pak Monyet, apakah kami boleh membantu untuk memetik buah-buahan segar di luar sana? Sepertinya masih banyak buah selain pisang yang bias kau makan.”
Pak Monyet mengangguk dan seketika anak-anak tersebut bersorak gembira. Esok hari, mereka bahkan bangun sebelum ayam hutan berkokok. Dengan sigap, mereka saling membantu untuk memetik pisang dan beberapa buah apel lezat. Bibi Babi berusaha untuk tidak memakan sebuah pun dan ia berhasil! Isi keranjang itu penuh dan wajah Pak Monyet yang keriput itu berbinar. Ia yang baru saja bangun merasa sangat bahagia hari itu. Anak-anak tersebut menebus kesalahannya kemarin dan Pak Monyet bangga mereka mampu memetik buah-buah itu sendiri.
Tiba-tiba, suara bedebum dan gaduh terdengar dari dalam hutan. Merpati pagi itu terbang di atas rumah pohon Pak Monyet dna bercuit-cuit senang. Oh, ternyata ia mendatangkan Boni Gajah dan anaknya, Omi Orang Utan, Riri Rusa dan orang tua Kuskus, Jeje, Bibi serta Ibu Merpati. “Kejutan!” seru Merpati riang gembira. Ia masih ingin memberikan kejutan yang menyenangkan bagi Pak Monyet.
“Wah, menyenangkan sekali kalian datang ke rumahku sepagi ini,” kata Pak Monyet, senyum tersungging di bibirnya. Kuskus, Jeje dan Bibi menghampiri orang tua mereka dengan wajah berbinar. Ibu Merpati dan Riri Rusa membawakan beberapa keranjang berisi buah mangga, kacang, jeruk dan leci segar. “Ini buah-buahan untukmu, Pak Monyet. Kami mendengar anak-anak memakan buah-buah yang dikirim kemarin. Untuk membalasnya, kami berniat memberikan lebih banyak lagi.
Pak Monyet sangat terharu. Anak-anak hewan itu memeluk Pak Monyet yang tua dengan hangat. Hari ini akan ada lebih banyak buah yang bisa dinikmati oleh Pak Monyet, batin mereka. “Tenang saja, Ibu. Aku dan teman-teman sudah memetik beberapa buah pagi ini untuk Pak Monyet,” tunjuk Kuskus Tikus Tanah ke arah keranjang penuh pisang dan apel. Para orang tua tertawa gembira dan memeluk mereka dengan bangga!
Boni Gajah dan anaknya memperlihatkan seruling bambu dan sebuah drum dari batok kelapa,”Nah, bagaimana kalau kita mengadakan pesta buah-buahan untuk Pak Monyet? Aku dan anakku akan menyumbangkan musik untuk kalian semua!” Seluruh hewan yang datang setuju dengan bersorak-sorai. Pagi itu mereka menikmati buah-buahan segar sambil berdansa diiringi musik yang indah.

The Night Circus:Menjelajahi Mimpi dalam Permainan Ilusi

Kisah yang ditulis oleh Erin Morgenstern ini  bermula dari Prospero sang Pesulap yang mendapat surat dari seorang wanita, dikirim beserta seorang gadis kecil. Celia Bowen, gadis berambut ikal dan bermata hitam itu merupakan anak kandungnya. Ia mewarisi keahlian sang Ayah sebagai pemain ilusi. Namun, ia tidak menyangka bahwa Hector Bowen—nama asli Prospero, membuatnya tidak memiliki pilihan selain mengikuti sebuah tantangan dengan saingan Ayahnya, Alexander. Gadis itu masih ingat cincin yang disematkan Alexander ke jari manisnya, meninggalkan bekas dan rasa tidak suka pada pria misterius tersebut. Pada bagian satu, diceritakan pula seorang anak yatim piatu, kelak menamai dirinya Marco Alisdair, yang diangkat menjadi murid oleh Alexander. Ialah anak biasa yang akan menjadi lawan Celia. Kecerdasan dan ketekunannya membuat Marco menguasai trik-trik sulap beraroma sihir dengan waktu singkat. Namun, baik Marco maupun Celia sama-sama kehilangan masa-masa kecilnya. Hidup mereka penuh dengan latihan dan rutinitas yang menjemukan. Keduanya sampai di suatu titik dimana mereka sangat membenci guru masing-masing, Hector dan Alexander. Tantangan ini memerlukan arena dan Alexander sudah mempersiapkan Marco untuk memulainya. Dengan bantuan gurunya, ia direkrut menjadi asisten pribadi pria keturunan India pecinta seni dan pemilik la maison Lefévre, Chandresh Christophe Lefévre. Bersama dengan Mme. Padva; mantan prima ballerina, Mr. Ethan W. Barris sang insinyur, Tara dan Lainie Burgess yang menggeluti dunia tari dan seni peran, mereka menciptakan Le Cirque des Rêves—Sirkus Mimpi. Chandresh beserta Madame Padva merekrut berbagai macam pemain sirkus yang akan mempertontonkan keunikannya dalam tenda yang disediakan khusus untuk mereka, dan Celia merupakan salah satunya. Ia dikenal sebagai The Illusionist, pemain ilusi dalam trik-trik sulap hebat; burung-burung dari kertas, jubah hitam yang sepenuhnya berubah secara ajaib menjadi seekor Raven. Dalam ketidaktahuan akan identitas lawan mainnya, Celia mengikuti alur permainan dengan menciptakan lebih banyak keajaiban di dalam tenda sebagaimana lawannya menciptakan sihir mengagumkan dalam tenda Taman Es.  Mereka terus berusaha saling menjatuhkan dengan memperlihatkan keunggulan wahana dari permainan ilusi masing-masing. Namun, keduanya tidak pernah tahu kapan akan berakhir dan bagaimana pemenang ditentukan. Isobel, pemegang keseimbangan sirkus dan gadis yang tergila-gila pada Marco, melaporkan setiap kejadian di sirkus padanya setiap kali sirkus berpindah tempat. Ia membantu Marco untuk mengendalikan sirkus ketika lelaki tersebut duduk di balik mejanya. Kehidupan sirkus dan segala isinya lambat laun telah menyatu dengan Sang Ilusionis; jam dinding ajaib buatan Herr Thiessen, aroma sari apel dan karamel terlezat, api unggun seputih salju, kelahiran si kembar Murray—Poppet dan Widget, Labirin Awan, botol-botol berisi aroma kenangan, hingga keberadaan para Rêveurs bersyal merah di setiap pertunjukan mereka. Tapi, siapa yang menyangka keberadaan tenda-tenda hitam putih yang semakin bertambah itu malah menumbuhkan kekagumannya pada sang lawan. Ketika tiba akhirnya ia mengetahui identitas Marco, bunga-bunga cinta mulai bertumbuh di antara keduanya, perasaan yang seharusnya tidak boleh ada. Cinta merupakan malapetaka bagi mereka sebab salah satunya akan menderita ketika yang kalah mati dalam kompetisi—kenyataan yang baru diketahui Celia dari Tsukiko si Manusia Plastik. Keinginan mereka berdua untuk bersama tidak pupus begitu saja, walaupun bekas cincin yang menyatukan mereka pada tantangan mengobarkan rasa sakit saat mereka berpikir untuk bersama. Marco yang sudah muak terhadap permainan gurunya ini mulai mengatur cara agar kompetisi berakhir tapa kemenangan maupun kekalahan pada salah satu pihak. Sementara mereka saling bermain menciptakan mimpi, satu per satu kejadian buruk menimpa orang-orang yang terlibat dalam sirkus. Setiap kata yang tertulis di buku ini mampu membawa pembacanya seolah berada pada Sirkus Mimpi dan menikmati pertunjukan serta permainan dalam setiap tenda. Erin mampu menggambarkan karakter-karakter yang kuat dengan alur cerita yang indah. Namun, pembaca harus dengan baik menyimak setiap sub-bagian dalam novel ini. Sebab, Erin dengan gayanya yang unik menulis The Night Circus dengan alur campuran. Kisah-kisah yang disuguhkan tidak semuanya beraturan sehingga Anda sendiri yang harus baik-baik menata kejadian-kejadian tersebut selama Anda membaca. Saya pun masih perlu membolak-balik halaman untuk mengingatkan diri saya tentang cerita pada sub-bagian sebelumnya. Memang memakan waktu, tapi menurut saya worthed. Namun, tidak perlu takut karena jika Anda tidak memperhatikan latar waktunya-pun, kisah dalam novel ini masih enak dibaca. Setiap detail dan pertanyaan yang mengusik kepala Anda saat membaca ini akan terjawab sedikit demi sedikit; mengapa Hector dan lawannya menciptakan tantangan, siapa sebenarnya Tsukiko, kematian Prospero dan siapa tokoh yang diceritakan pada epilog setiap bab. Pembaca juga akan dibawa untuk mengira-ngira apa yang akan terjadi pada kedua lawan ini atau bagaimana kelanjutan Sirkus Mimpi yang selalu dinanti para Rêveurs, yang menurut saya sulit untuk ditebak (suatu kelebihan buku ini juga). Kehadiran Bailey, bocah dari desa yang terkagum-kagum pada Poppet, nanti akan menjadi tokoh penting pada Bagian IV, Pemantik. Salah satu novel nominasi Guardian First Book Award 2011 dan pemenang Alex Award 2012 ini dikabarkan akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Hollywood. Kapan dirilisnya? Mari, kita tunggu saja. Continue reading

Jenis- Jenis Dosen Pembimbing Skripsi

Singkat saja, catatan ini saya buat bedasarkan observasi saya selama saya masih berstatus mahasiswi semester 8. Apa yang saya tulis murni pengalaman yang entah saya atau teman saya atau leluhur a.k.a senior saya terdahulu saat menjalani skripsian dan didukung oleh apa yang teman saya dari luar jurusan atau universitas lain. Jadi, tulisan ini juga merupakan ulasan singkat pengalaman dari berbagai penjuru yang masih bisa saya jangkau waktu itu.
Kebanyakan apa yang kami alami 11-12 dengan apa yang kakak senior perbincangkan mengenai dosen pembimbing mereka terdahulu. Beberapa hanya rumor yang menakuti, tapi sebagian besarnya memang benar. Agak sulit memang untuk ‘merapikan’ beberapa cerita tentang dosen pembimbing ini karena begitu banyak karakter manusia. Apalagi cerita tersebut memang benar-benar subyektif. Walaupun kepala saya agak pening karena terus berpikir dan memakai kacamata (ah, memakai kacamata itu melelahkan *lepas kacamata*), dengan kesungguhan hati, saya mengkategorikan jenis-jenis dosen tersebut supaya tidak membingungkan. Kategori-kategori yang saya buat antara lain: 1) kategori sifat dasar dosen, 2) kategori cara penilaian dosen, dan 3) kategori hubungan antar dosen pembimbing. Tulisan saya ini bukan untuk menjelek-jelekkan, menjerumuskan atau menakuti siapapun. Saya hanya ingin sharing apa yang telah saya dan teman-teman saya alami sebelumnya. Mungkin itu juga terjadi pada siapapun.
Nah, tanpa panjang lebar lagi, berikut adalah jenis dosen pemimbing menurut kategori sifat daasr dosen. Banyak yang mengeluh mengenai dosen yang membimbing mereka ketika skripsian. Padahal dosen juga manusia yang sifatnya beragam seperti mahasiswanya. Maka dari itu, kategori ini pun paling banyak jenisnya, antara lain:
1. Dosen yang Pengertian
Saya letakkan ini di nomor satu karena setiap mahasiswa/I baik yang bulukan, cantik, wangi, menor, ganteng, super atau yang bau keringat setiap hari-pun pasti menginginkannya. Yap, dosen semacam ini (menurut ucapan kahayalak mahasiswa) membuat skripsi macam apapun bisa maju sidang. Mereka sangatlah pengertian—tahu bahwa mahasiswanya butuh bantuan dalam skripsinya dan ingin segera lepas meninggalkan kampus. Biarpun judul proposalnya bisa dibilang hancur, tidak masuk akal atau tidak jelas arahnya akan kemana, mereka akan memberi nasihat yang terbaik, bahkan membantu kita dengan memberitahukan referensi yang tepat bagi penelitian kita. Mereka akan senang jika mahasiswanya mau berusaha, bukan copy paste dari milik peneliti sebelumnya yang juga mengambil jenis studi yang sama. Kawan-kawan harus berhati-hati juga pada jenis dosen yang satu ini karena banyak ternyata mahasiswa yang menyalahgunakan kebaikan mereka.
Seperti contoh seorang mahasiswa meminta kakak atau pacar atau siapapun untuk membuat skripsinya dan ingin segera maju sidang. Nah, dosen jenis ini (biasanya) mengiyakan keinginan mahasiswanya sebab, mereka memahami akan keadaan mahasiswanya yang (kebanyakan) sudah malas berkutat dengan buku dan tugas. Apalagi yang belajar hingga 4-6 tahun lamanya. Bau bangkai pasti akan tercium juga. Jika terciumnya sebelum ujian skripsi, okelah. Setidaknya diomeli hanya di depan muka kita saja. Namun, kalau itu terjadi ketika sidang… berabe! Dosen sebaik apapun pasti akan sangat kecewa. Kejadian inilah yang membuat dosen-dosen pengertian jarang bisa kita temukan lagi. Saya yakin, dosen-dosen yang paling dihindari dulunya adalah dosen-dosen yang pengertian. Tapi, saking banyaknya mahasiswa yang mulai bertingkah ini membuat mereka lebih ‘disiplin’ sehingga tidak bisa menerima excuse berlebihan dari mahasiwanya.

2. Dosen yang Tidak Tepat Waktu
Membuat janji dengan dosen itu merupakan hal wajib bagi mahasiwa semester 8 atau lebih. Sebab, dosen tersebut hanya ada satu, tapi puluhan mahasiswa membutuhkan waktu beliau dan ditambah lagi urusan luar lainnya seperti seminar, rapat, makan siang atau ke kondangan. Jika dosen mengatakan bisa bertemu pada jam sekian di tempat ini, pasti mahasiswa tersebut akan tiba jauh sebelum waktu perjanjian karena takut terjadi sesuatu dan lain hal. Tapi, kemalangan masih saja terjadi pada mahasiswa/I rajin seperti teman-teman saya dulu yang menunggu dari sejam sebelum waktu bertemu hingga lewat dua jam berikutnya. Ruangan beliau kosong dan jika dihubungi, tidak ada balasan. Baru beberapa jam, hingga jauh setelahnya, barulah batang hidung dosen tersebut muncul. Mahasiwa tidak bisa berkata apa karena mereka yang membutuhkan si dosen, bukan sebaliknya. Dosen juga bukan pacar mereka yang ketika telat dating bisa langsung disemprot begitu saja. Hal yang paling mengesalkan adalah saat teman saya sudah menunggu begitu lama tapi ternyata beliau tidak datang dan entah kapan lagi bisa bertemu!

3. Dosen Siput
Sedikit sekali ulasan saya mengenai dosen siput di dunia liliput ini. Yap, dosen semacam ini selain gaya bicaranya lamban, kerjanya pun juga. Jadwal kita yang sudah disusun dari pengumpulan skripsi hingga kapan wisuda bisa-bisa berantakan karena dosen satu ini. Proposal dari mahasiswa skripsiannya bisa-bisa sebulan dibacanya. Saking pelannya, kadang mahasiswa berpura-pura dengan memberitahu pendaftaran untuk ikut ujian proposal gelombang terakhir bulan ini akan segera tenggat sehingga dosennya harus cepat-cepat merevisi. Haduh! Dosen lambat sih memang bikin pusing, tapi….

4. Dosen WAW
WAW yang dimaksud adalah gaya berbusana beliau. Dari akar rambut hingga ujung jempol kaki necisnya minta ampun. Make-up setebal buku jenis-jenis penelitian oleh Borg and Gall menempel di kulit wajahnya. Tidak jarang ada dosen wanita bergaya mentereng hingga waktunya sibuk untuk mengurusi penampilannya ke kampus dan bukan mahasiswanya. Jika bertemu, paling-paling hanya menanyakan perkembangan secara garis besar, terlihat bahwa ingin perhatian pada mahasiswanya padahal ujung-ujungnya bilang,”Ya, saya mengikuti apa kata pembimbing pertama saja.” Haduuuh!

5. Dosenku Entah Kemana
Sangat bangga rasanya menjadi mahasiswa/I bimbingan seorang dosen yang merupakan guru besar dengan jam terbang yang tinggi melayang. Sampai-sampai mahasiswanya sampai pening melihatnya ‘terbang’ kemana-mana. Sekali bertemu, cuma bisa membahas beberapa hal. Besoknya setelah skripsi direvisi, beliau sudah tidak ada lagi di kantornya. Kata Humas, sang dosen pergi ke Malaysia untuk mengisi seminar Internasional. Padahal, (pernah sekali) teman saya hanya ingin minta tanda tangan untuk bisa maju ujian proposal sementara pembimbing kesayangannya sedang di Bangkok. Untung kami bisa menghentikannya untuk membeli tiket pulang-pergi negeri gajah putih itu demi sebuah goresan pena!
Jika kawan-kawan memiliki pembimbing jenis ini, baiknya mengikuti apa yang teman saya lakukan. Kebetulan (dan untungnya pula!) dosennya memiliki jadwal tetap. Sekian hari di sini, sekian hari di sana, jadi ia sudah punya jadwal kapan bisa bertemu beliau. Yang tidak, menurut hemat saya, mending sering-sering berdo’a memohon ampun atas segala dosa. Ya, siapa tahu kawan-kawan bisa jauh lebih ikhlas menjalani penghujung semester. Tidak ada yang tidak mungkin kok. Lha, dosen saya yang dulu pernah dibimbing oleh seorang Prof. seperti ini, beliau cuma butuh waktu 2 TAHUN untuk menyelesaikan skripsinya dan wisuda dengan selamat serta bahagia.

6. Dosen Amnesia
Ini yang paling menyebalkan dan untungnya saya tidak pernah mendapatkan atau berurusan dengan dosen semacam ini, walaupun ada dan masih hidup. Berhati-hatilah! Hasil penilaian ujian proposal teman saya pernah dihilangkan oleh pembimbing tercintanya yang menyebabkan nilainya keluar belakangan sehingga jadwalnya merevisi proposal jadi matot—macet total! Ada pula yang bahkan LUPA dimana meletakkan skripsi yang sudah diketik rapi hingga bagian lampiran-lampirannya. Kedua belah pihak tidak tahu menahu keberadaan si skripsi yang kata Bapak/Ibu dosen sudah dibawa pulang dan direvisi sebelum masuk ujian. Dimakan jin mungkin?

7. Dosen I-Trust-You
Pembimbing semacam ini menaruh kepercayaan besar di pundak mahasiswanya. Saya pun jika dapat pembimbing semacam ini bingung: antara merasa bangga atau takut. Ya, bangga karena dosen PERCAYA pada hasil kerja mahasiswnya tanpa perlu banyak membimbing dan menilai isi skripsi kita. Bagian yang menakutkan adalah, apabila isi skripsi yang kita dan pembimbing sudah anggap benar berkebalikan dengan ‘kebenaran’ yang penguji yakini saat sidang. Nahlo! Teman saya pernah mendengar bahwa banyak dosen yang mengatakan bahwa skripsi yang lahir dari tangan pembimbing semacam ini biasanya GAK NYAMBUNG dan GAK COCOK antara elemen satu dengan yang lain. Seperti mengiris daging ayam dengan gunting. Atau menebang pohon dengan pisau dapur. Bisa sih, tapi… Parahnya lagi, penguji tak jarang meminta mahasiswa tersebut untuk MEROMBAK sebagian besar isi skripsinya. Horrible!

8. Dosen Pasal 1
Yang pernah memasuki masa-masa masuk SMP atau SMA pasti tahu pasal 1. Yap, dosen selalu benar dan jika beliau salah, balik ke pasal satu. Sudah tentu mereka adalah manusia-manusia egois yang bertitel. Bayangkan saja, teman saya yang sudah hampir copot nyawanya karena tidur sejam selama seminggu itu diminta dosennya untuk merubah lagi jenis penelitiannya. Merubah jenis penelitian sama dengan meminta Sule untuk mengganti wajahnya. Alias, ulang dari awal lagi! Jeng jeng! Si dosen malah meremehkan apa yang dikerjakan olehnya. Dibilang instrumennya beginilah, judulnya anehlah, rumus penghitungannya salah-lah. Lucunya (dan ironisnya), teman saya ini merevisi apa yang dosennya sebelumnya beritahukan mengenai judul yang benar, instrument, cara menghitung data, dsb. Direvisi PERSIS di bagian yang beliau coret dan diberi note di atas skripsinya itu. Salah tanda baca pun ia edit dengan sunggguh-sungguh. Teman saya cuma bisa manyun, mengikuti ke-egoisan si bapak/ibu dosen. Sebab, dosen jenis ini tidak bisa dilawan. Dan belum pernah dalam sejarah yang saya dengar ada mahasiswa yang melawan dosen macam ini.

9. Dosen Margaret Thatcher
Margaret Thatcher adalah Perdana Menteri Inggris wanita yang dikenal bertangan besi. Ketika beliau meninggal, ada yang bersuka cita, ada yang bersedih. Setahu saya, lebih banyak yang bersuka cita. Gen kedisiplinan ala Mrs. Thatcher ini ada pula yang memiliki. Setiap saat harus mengikuti aturan, harus memiliki referensi yang asli, bukan kutipan alias second hand, editan harus rapi, bertemu jika memang harus bertemu, dsb. Bagi yang merasa menjadi mahasiswa yang malas, siap-siap saja bila skripsinya disandingkan dengan dosen semacam ini. Jangan takut atau panik dulu. Sebaliknya, ambil hikmahnya saja. Siapa tahu kalian diberikan pencerahan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik (ceilah!).

10. Dosen Sakaw
Kenapa saya sebut sakaw? Karena beliau-beliau ini biasanya bila dipuji langsung seperti remaja yang baru nyabu. Mereka senang jika diperlakukan demikian oleh mahasiwanya sebab mereka haus akan pengakuan secara positif. Selain pujian, mereka juga demen sama sogokan macam apapun. Bila melangkah, harus ekstra hati-hati. Sebab, kita tidak tahu apakah beliau benar-benar memberikan kita nilai bagus setelah dipuji atau malah sebaliknya. Biasanya, mereka ini justru bersikap sangat subyektif.

11. Dosen Sesat
Sesat yang dimaksud bukan aliran, namun pengetahuan yang diberikan oleh dosen-dosen yang satu ini. Tidak pernah bisa dipungkiri, jenis penelitian berbanding lurus dengan jenis dosen pembimbing nantinya. Namun, ada saja satu dua kejadian dimana dosen (biasanya pembimbing kedua, atau ketiga jika ada) diminta untuk membantu mahasiswanya dalam menyelesaikan skripsi yang bukan bidang keahliannya. Tahu sih iya, tapi mendalami tidak. Ingat, suatu ilmu masih mempunyai banyak lagi cabang-cabang ilmu lainnya. Seperti contoh, pendidikan bahasa Inggris yang memiliki banyak dosen yang melanjutkan studi S2 dan S3 di bidang Linguistik (ilmu bahasa) dan ada juga yang lebih mendalami bagian pendidikannnya. Jadi ketika teman saya yang mengangkat penelitian tentang Linguistik mendapat pembimbing yang bergelar Master di Pendidikan, agak runyam jadinya. Sang dosen harus membaca bukunya waktu S1 lagi sebelum memberikan pencerahan. Terkadang ia juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan teman saya. Kalau beliau sendiri tersesat, bagaimana nasib mahasiswa?!
Kategori selanjutnya adalah yang paling mudah, yaitu cara penilaian dosen. Penilaian tentu berhubungan dengan subyektifitas atau obyektifitas dosen. Namun, caranya ternyata beragam terlepas dari jenis penilaian mereka.
1. Melihat Kegigihan Mahasiswa
Saya pernah mendengar curhatan dosen saya sendiri yang mengatakan bahwa ia lebih senang membantu mahasiswa yang rajin dan mau berusaha ketimbang yang pintar-pintar, tapi sekalinya datang malah minta tanda tangan supaya bisa maju ujian. Waku bimbingan, ia jarang datang. Malah menghabiskan waktunya di warung kopi. Merasa sudah terlalu pintar mungkin? Hal ini snagat menguntungkan bagi mahasiswa yang tahu karakter dosen pembimbingnya. Sering datang bimbingan atau sekedar konsultasi basa-basi apa susahnya? Toh, yang pengetahuannya bertambah itu kita, bukan ayam kita di kampung.

2. Mengecek Referensi
Ini penting bagi beberapa dosen karena dari referensi mereka tahu apakah mahasiswa ini mengerjakan sendiri isi dari skripsinya. Kalau hanya ngopi saja kutipan tersebut dari skripsi orang, umumnya mahasiswa jenis ini sering lupa meletakkan referensinya dari mana. Maka dari itu, penting jika kalian mengutip sesuatu harus dengan daftar pustakanya juga. Kalau dosen yang levelnya tinggi, mereka bahkan bisa meminta mahasiswanya untuk membawa bukti berupa buku atau artikel tempat mereka mengutip.

3. Plagiarisme
Sekali ketahuan, gelar sarjana dibatalkan. Maka dari itu, sudah banyak dosen yang aware dengan hal yang satu ini.  Tidak segan-segan bahkan kampus memfasilitasi dosennya dengan software untuk menguji plagiarisme suatu karya dan membatalkan wisuda yang terbukti melanggar. Saya sarankan agar kawan-kawan membuat skripsi semampu otak kalian. Yang penting, itu hasil buatan sendiri. Bukan manipulasi! Jika lelah membuat skripsi, istirahatlah. Baru lanjutkan lagi. Merasa tidak lagi mampu melanjutkan? Okelah, jangan lanjutkan. Mungkin bukan jalan kalian untuk menyelesaikan skripsi.

4. Kemenarikan Penelitian
Mungkin ini yang paling sering dibahas karena sebagian besar dosen akan terus mengingat karya-karya mana yang menarik minat mereka. Mereka pasti dengan senang hati mengulurkan tangan untuk membantu kalian dalam menyelesaikan skripsi. Namun, keadaan terburuknya adalah siap-siaplah untuk mencari lagi ide penelitian yang lain. Sebab, banyak yang awalnya judul proposal tersebut dielu-elukan, tapi ketika masuk Bab 4, hasil penelitian tidak bebuah apapun atau tidak berujung kemanapun atau ternyata tidak bisa menyelesaikan karena sesuatu dan lain hal.

5. Aturan dari Segala Sisi
Setiap tahun, kampus mungkin saja merubah aturan dalam pembuatan skripsi, tesis atau disertasi sesuai dengan pekembangan zaman atau perubahan aturan Internasional yang dianutnya. Cara membuat artikel-pun biasanya dibahas dalam sebuah buku yang patut dimiliki oleh semua tetua-tetua jurusan (a.k.a mahasiswa/I semester akhir). Ada saja dosen yang selalu menilai skripsi yang dibuat oleh mahasiswanya dengan detail; isi, hasil, margin, font, hingga cara mengutip sebaris kata ataupun satu paragraf sang empunya teori. Jangan salah, banyak mahasiswa yang terkecoh dengan meyakini bahwa ‘dosen kita tidak akan menilai sampai segitunya karena banyak skripsi yang harus diperiksa’. NO WAY! Memeriksa atau tidak, kalian harus tetap pukul rata; memperhatikan aturan dan mengikutinya dengan baik. Toh, ketika kalian keluar menjadi bagian dari masyarakat, akan ada lebih banyak aturan yang harus kalian jalani.

Kategori yang terakhir yaitu hubungan antar dosen pembimbing ini merupakan yang terberat yang harus seorang mahasiswa jalani sebagai ujian dari Yang Maha Esa. Hubungan ini, yang saya lebih senang menyebutnya sebagai simbiosis (Jujur, saya masih perlu membuka RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) kelas 5 SD saya yang dulu untuk memberikan informasi yang benar mengenai simbiosis-simbiosis yang saya bahas *tertawa pedih*), sedikit banyak mempengaruhi penyelesaian skripsi. Jadi, perhatikan baik-baik.
1. Simbiosis mutualisme
Hubungan antara burung jalak dan kerbau ini sebagian besar dapat ditemui dengan mudah. Jadi, bagi siapapun yang mendapat dua atau tiga pembimbing yang bisa saling support satu sama lain, bersyukurlah. Jangan sekali-sekali dimanfaatkan karena akan berbalik menyerang seperti bumerang. Mereka akan saling membantu dan memberikan masukan sejalan satu sama lain supaya skripsi kawan-kawan cepat selesai dan mereka tidak perlu lagi melihat kalian (lha?).

2. Simbiosis parasitisme
Saya tidak mengerti dengan kejadian yang menimpa teman saya. Dia mendapatkan dua pembimbing yang keduanya pernah mengenyam bangku S3 (ceilah, bangku!). Entah karakter keduanya secara individual seperti apa, yang jelas keduanya tidak akur. Bahkan teman saya yang rajin berdo’a masih saja kelimpungan mengurusi pertengkaran diam-diam mereka ini. Usut punya usut, kedua dosen tersebut memiliki paham berbeda walaupun bidang keahliannya sama. Manusia tidak ada yang sempurna, apalagi teori dan penelitian yang mereka yakini benar. Bertabrakanlah kedua paham ini dan yang hancur adalah hati teman saya berikut setiap lembar skripsinya. Setiap dia bimbingan, selalu saja apa yang dikatakan berbeda satu sama lain. Jika diberitahukan bahwa pembimbing B berkata lain, pembimbing A (mungkin) tidak terima dan bahkan bisa sampai menuntut penilaian mahasiswa tentang siapa yang lebih pandai. Haduh! Keadaan tidak saling mendukung ini (syukurnya) diakhiri dengan salah satu pihak mengalah. Pohon mangga menjadi kurus karena makanannya dihisap oleh si benalu.

3. Simbiosis komensalisme
Yang ini seperti anggrek yang hidup dengan cara menempel di batang pohon tumbuhan lain. Yang satu beruntung, yang satu tidak dirugikan. Apa bedanya dengan simbiosis mutualisme? ‘Kan sama-sama untung. Begini… anggrek untung bisa mendapatkan cahaya matahari dengan lebih baik, si pohon tidak rugi dan tidak untung apa-apa sebab anggrek juga tidak mengambil makanannya dan tidak memberikan kontribusi aktif pada si pohon (selain si pohon makin cantik tentunya). Itu menurut pemahaman saya.  Hubungan aneh ini pernah dialami oleh seseorang yang saya kenal baik. Dia memiliki seorang dosen (Anggrek) dan seorang lainnya (Pohon). Dosen Anggrek ini mendapatkan lebih banyak ilmu dengan membimbing skripsi teman saya sementara yang satunya (pernah membuat skripsi serupa) mau dia hanya sekedar melihat atau benar-benar memperhatikan skripsi itu juga tidak ada untung atau rugi bagi dia. Hanya sekedar membimbing lalu maju ujian. Selesai.

Panjang betul ternyata ulasan saya mengenai jenis-jenis dosen pembimbing skripsi ini. Harap maklum jika banyak jenis-jenis yang belum saya ketahui karena saya yakin di luar sana masih ada cerita-cerita menarik yang belum terungkap. Sekali lagi saya ingatkan (supaya kawan-kawan tidak lagi capek-capek membaca head di atas) tulisan ini hanya untuk sharing.  Intinya yang ingin saya beritahu adalah ketika menulis skripsi itu seperti menulis bagian akhir sebuah novel. Sulit menciptakan ending seperti apa yang bagus dan tepat seperti harapan kita. Skripsi, adalah ending itu. Tidak mudah memang membuat skripsi yang baik karena manusia sendiri bukanlah orang yang sepenuhnya sempurna. Jadi, penelitian macam apappun pasti tidak ada yang sempurna.
Yang harus kawan-kawan pahami adalah bukan masalah dosen seperti apa atau jenis skripsinya apa, sebab skripsi itu menguji mental kalian. Pecuma jika pintar akademik, tapi doyan plagiat penelitian orang atau gampang K.O di tengah jalan. Jika orang-orang seperti itu lolos begitu saja, akan banyak manusia-manusia bermental tempe, akan lahir penipu yang menjadi koruptor nantinya dan lebih parah lagi, menjadi sampah masyarakat. Di sinilah mahasiswa/I di-training pengalaman hidup karena tantangan sebenarnya dimulai setelahnya.
Selamat berjuang!

CATATAN KAKI Bagian 1 Kaki-kaki di Bawah Gemintang

Aku pernah melakukan perjalanan sejauh 3 kilometer melintasi sebuah kota sepi nan kelam dengan hanya berjalan dengan telapak kakiku yang panjangnya cuma 40 senti. Sungguh melelahkan memang, namun aku menemukan sesuatu yang baru…. Sesuatu yang menggairahkan batinku yang telah renta karena lama tak menulis lagi. Selama perjalanan itu, aku mengetik kata-kata di otakku dan catatan agar aku tak lupa menulis dan membagikannya kepada kalian. Perjalanan ini merupakan salah satu perjalanan penting dalam sembilan belas tahun hidupku. Ya! Aku melakukannya untuk mencapai sebuah tujuan yang penting. Tapi, ini rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang boleh tahu. Dalam perjalanan di bawah gemintang itu, aku membangun sebuah kerangka, rencana yang aku tahu akan mengubah segalanya. Aku ingin mencapai tujuanku itu, dengan berjalan.

Pasti banyak orang-orang yang bertanya, mengapa aku harus menggunakan kakiku ketimbang mengendarai motor? Ya, aku tahu jelas jawaban itu. Sebuah tempat, yang aku tuju itu tidak jauh jika harus mengendarai motor. Paling hanya 5 menit. Bagiku, lima menit itu ada artinya. Lima menit itu bermakna karena banyak yang bisa aku lakukan dalam 5 menit. Jika aku mengendarai motor atau mobil, aku tak akan pernah mempedulikan sekitarku. Hanya hitam dan hijau… membentuk garis yang tak putus-putus jika aku mengendarai motor atau mobil dengan kecepatan tinggi. Apa yang bisa aku lihat dalam keadaan itu? Tidak ada! Aku hanya lewat, layaknya manusia-manusia yang selalu tak aku kenal bila berhenti di lampu merah. Orang-orang baru yang aku tak tahu rautnya seperti apa karena tertutup kaca helm atau gelapnya riben kaca mobil. Saat aku berjalan, semua hal termasuk semut-semut yang menjalari tembok bangunan tua-pun terlihat. Di malam itu, aku melirik hal-hal lama, namun baru aku benar-benar bisa melihat dari jarak dekat.

Sebuah gedung yang berada dalam proses pembangunan, malam itu terlihat indah dan megah. Lampu-lampu terang dari bawah dan atas bangunan memberikan kesan bahwa bangunan itu akan menjadi primadona bagi siapapun yang melihat. Ada juga bangunan tua dan terpojok, termakan kegelapan. Sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi hidup di pekarangannya, namun entah siapa yang memelihara. Kepalaku terus saja memproses apapun yang ingin aku pikirkan. Entah itu sesuatu yang baru saja aku lihat, apa yang aku ingin lakukan saat tiba nanti, bagaimana keadaan pengemis yang tidur di emperan toko, kapan aku akan wisuda… segalanya! Mungkin puluhan, bahkan ratusan hal yang melintas di rel-rel syarafku. Entah hal itu hanya sekedar lewat ataupun sebuah masalah yang ternyata bisa aku selesaikan dengan baik. Aku tak bisa melakukan hal semacam ini saat berkendara. Ya, semua hal terkesan terlalu terburu-buru bila mengendarai motor. Aku mengejar waktu yang abstrak, menangis bila aku tak dapat meraihnya. Yah…. Begitulah manusia kota. Pusing dengan diri sendiri hingga stress tak karuan karena sebab musabab yang tak nyata, tak teraih oleh tangan.

Ketika aku menapaki lagi tanah di bawahku sedikit demi sedikit, aku bertemu sesorang. Ia laki-laki dan ia bertanya,”Mau kemana?”

Aku jawab,”Ke sana.”

“Kok jalan kaki?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangkat bahu dan pergi. Lho, memangnya kenapa kalau aku berjalan kaki? Apakah ada peraturan bahwa seorang gadis tidak boleh berjalan kaki malam-malam? Memangnya semua orang harus mengendarai motor atau mobil kalau ingin pergi ke suatu tempat? Apakah aneh kalau aku memilih untuk berjalan? Banyak sekali pertanyaan yang menyesaki rongga di tengkorak kepalaku.

Ya, ada saja orang iseng yang aku temui jika aku berjalan di malam hari seperti anak kecil yang tersesat. Aku juga bertemu seorang tua yang mengendarai matic malam-malam. Ia menghampiriku dari belakang, menanyaiku dengan prihatin,”Dik, mau kemana? Pulang? Bapak antar, ya? Dimana rumahnya?”

Aku yang masih shok hanya menggeleng-geleng kepala, ingin menangis saja rasanya bertemu orang seperti bapak ini. “Oh, tidak usah, Pak. Dekat, kok. Dari sini tinggal belok saja.”

“Oh, kalau mau tumpangan, bilang aja sama bapak, ya.” Aku mengangguk dan kemudian ia pergi. Oh, ya Tuhan! Ada-ada saja rencanamu malam itu. Aku dipertemukan pada seseorang yang masih peduli dengan sekitarnya, merasa kasihan pada sesuatu yang menimpa orang di jalanan. Aku pasti takkan pernah bertemu dengan orang semacam ini bila aku mengendarai motor atau mobil. Orang-orang seperti bapak itu akan terlewat begitu saja. Hati tulus seperti itu… kita bahkan tak tahu siapa yang benar-benar memilikinya. Aku sempat berpikir, orang zaman dahulu ketika kendaraan merupakan sesuatu yang ‘mahal’ sehingga lebih memilih berjalan kaki, lebih jauh peduli terhadap sesuatu. Mungkin karena apa yang aku alami. Aku lebih mencintai seluk beluk kota sepi nan kelam ini, aku lebih peduli dengan detail-detail dan kebobrokan di balik kemegahan. Ah, tapi itu cuma hipotesis asal-asalan semata!

Kembali lagi kaki-kakiku berjalan menempuh rute yang sudah aku hafal enam bulan belakangan ini. Aku mencintai jalan ini, jalan yang dekat dengan kuburan dan jembatan serta sungai yang deras di bawahnya. Aku mencintai setiap kenangan ketika melewati jalan ini. Aku mencintai orang-orang yang aku ajak saat melewatinya. Aku mencintai apapun hal yang terjadi di sepanjang 3 kilometer ini. Ah… aku juga mencintai orang-orang yang memperkenalkan jalan ini kepadaku. Sebuah jalan beraspal dan riuh rendah di siang hari tersebut ternyata adalah jalanku menuju sesuatu yang lebih besar… sesuatu yang akhirnya menjadi sebuah batu loncatan pada hidupku yang standar. Sesuatu yang akhirnya aku dapatkan setelah lelah berjalan di antara neraka jahanam ini. Beberapa menit setelah aku berpikir demikian, aku akhirnya sadar. Dunia semakin berkembang, membentuk sebuah peradaban baru yang sangat cepat. Benda-benda pun dirancang untuk mempermudah kegiatan seseorang. Namun, terkadang, kita harus berhenti sejenak… berlambat-lambat sebentar untuk melihat sekeliling kita, meratapi yang sebenarnya terjadi di jalanan. Tidak ada salahnya untuk lelah berjalan, lelah berpeluh-peluh. Aku pun belajar darinya. Pelajaran berharga dimana kita harus tahu bahwa tak selamanya kita bisa mencapai tujuan secepat yang kita mau. Pelan-pelan saja karena sebenarnya orang yang berjalan pelan adalah orang yang lebih banyak belajar sesuatu… lebih teliti dan peduli. (photo: facebook.com)Image: